SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pertanian (Distan) Banten menyebutkan produksi padi di wilayah Banten pada bulan Maret 2024 akan mengalami kelebihan atau surplus hingga 45.963 ton.
Produksi padi itu akan mencukupi kebutuhan rata-rata per bulan masyarakat Banten yang hanya 119.677 ton per bulannya.
Kepala Distan Banten Agus M Tauchid mengatakan, produksi padi di bulan Maret akan mencapai 261.965 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau setara beras 165.640 ton beras.
“Alhamdulillah panen di bulan Maret yang merupakan hasil tanam di bulan Desember 2023 akan bisa menyumbangkan produksi padi sekitar 261.965 ton atau surplus sebesar 45.963 ton dari rata-rata kebutuhan masyarakat per bulan,” ujar Kadistan kepada Radar Banten, Selasa, 13 Februari 2024.
Kadistan mengatakan, kondisi surplus ini disebabkan oleh meningkatkannya lahan tanam di wilayah Banten yang mulai memasuki musim penghujan dari bulan November 2023.
Dirinya mengakui, sebelumnya produksi padi di Banten mengalami defisit hingga 73.132 ton. Hal itu disebabkan menurunnya lahan tanam dikarenakan fenomena El Nino.
“Nah sekarang diakui baik di Jakarta, Banten dan dalam skala nasional di bulan Januari dan Februari ini kita mengalami defisit. Karena hasil panen bulan ini disumbang oleh tanam di bulan Oktober yang masih dalam keadaan El Nino,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, kondisi suplus juga terjadi pada bulan April 2024. Pada bulan itu akan ada panen raya yang dapat menghasilkan 325.224 ton GKG atau setara beras 205.639 ton beras dan surplus 73.994 ton beras.
“Angka tanam di Banten pada bulan Desember sudah bagus di angka 46.963 hektare, dan dibulan Januari sebanyak 63.371 hektare. Maka dipastikan produksi beras di beberapa bulan ke depan akan mengalami suplus,” ungkapnya.
Meski demikian, Agus berharap bahwa kondisi ini akan menciptakan mekanisme pasar yang wajar antara harga gabah dengan harga beras di pasaran. Sebab, harga gabah sudah menyentuh angka Rp8 ribu per kilogram. Hal itu tentunya akan berpengaruh kepada harga beras di pasaran.
“Kami ingin harga gabah di tingkat petani bukan mahal, tapi wajar. Jika harga gabah terlalu tinggi, maka kasihan konsumen. Kita ingin kondisi yang wajar baik bagi petani dan juga konsumen,” harapnya.
Ahli Muda Analis Perdagangan pada Disperindag Banten Dede Kurnia mengatakan, harga beras di bulan Februari ini mengalami lonjakan yang cukup tinggi hingga mencapai Rp17 ribu per kilogram.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan beras mengalami lonjakan harga salah satunya karena tahun politik. Ia mengungkapkan, bahwa menjelang Pemilu ini banyak peserta Pemilu yang memesan beras dari distributor dalam jumlah yang besar untuk kepentingan pribadinya.
“Menjelang Pemilu ini seperti pengalaman kami di lapangan, banyak teman-teman atau para peserta pemilu yang melakukan pemesanan beras ke distributor dalam jumlah yang tidak sedikit,” kata Dede.
Selain karena tahun politik, harga beras juga mahal dikarenakan tingginya harga gabah ditingkat petani. Yang mana harga gabah naik dari Rp5 ribuan menjadi Rp8 ribu perkilogram.
Namun dikatakannya, harga beras diprediksi akan kembali normal di bulan Maret dan April nanti. Sebab, dibulan itu akan ada panen raya.
“Mudah-mudahan setelah ini dua atau tiga bulan ke depan akan ada panen raya, sehingga setelah puasa dan Lebaran Idul Fitri tahun ini mudah-mudahan harga beras bisa kembali normal,” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Aas Arbi











