PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID –Bupati Pandeglang Irna Narulita tidak melarang dan tidak mempermasalahkan study tour TK, SD, dan SMP. Asalkan memilih travel yang baik, bus yang memiliki izin dan laik jalan.
Hal itu disampaikan Bupati Pandeglang Irna Narulita usai menghadiri acara diskusi publik di STISIP Banten Raya, Kamis 16 Mei 2024.
Sekolah yang berencana menggelar study tour, kata Irna, harus lebih proaktif memastikan pihak ketiga yang capable, mampu menyelenggarakan acara dengan baik.
Selain itu, sekolah juga harus memastikan kondisi kendaraan yang digunakan dalam keadaan baik.
“Kita buat lebih tepat gitu yah kalau memang tidak harus jauh, yang lokalnya lokal Banten, kemudian memilih akomodasi transportasi atau travelnya yang tepat, terus sopirnya punya sertifikasi enggak, kendaraannya laik enggak, emisi dan lain sebagainya. Jangan lihat murahnya saja tapi bus nya tidak laik,” ungkap Irna Narulita.
Sebagaimana diketahui, study tour menjadi sorotan belakangan ini usai tragedi rombongan pelajar asal Depok kecelakaan di Kecamatan Ciater, Subang, Jawa Barat. Kecelakaan nahas tersebut membuat nyawa 11 orang melayang.
Irna Narulita mengaku enggan mengambil untuk melarang sekolah melaksanakan study tour.
“Saya tidak berani mengambil keputusan tidak boleh ada study tour, karena memang semua harus dipelajari secara komperhensif, biar anak-anak kita itu punya ilmu, mengadopsi kemajuan daerah lain baik secara lokal maupun secara nusantara yang bisa mereka pelajari,” ucapnya.
Irna menjelaskan bahwa yang paling utama ialah transportasinya. Penting untuk memilih travel yang memiliki izin lengkap demi kenyamanan dan keamanan peserta study tour itu sendiri.
“Tapi yang utama itu izin bus transportasinya harus lengkap. Memang prihatin, namun sekolah-sekolah sekarang perlu berpikir dua kali sebelum melakukan study tour. Banyak hikmahnya, ini jadi pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” jelasnya.
Irna melanjutkan, jika study tour dilarang, siswa tidak akan memiliki kesempatan untuk berpikir terbuka dan memperoleh ilmu serta pengalaman yang luas.
“Ibu tidak mau anak-anak kita kehilangan kesempatan untuk berpikir secara terbuka. Study tour perlu diadakan jika memang bermanfaat, jika tidak, tidak perlu dipaksakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika diperlukan, sekolah bisa bekerja sama dengan sekolah lain, misalnya di Jawa Barat atau Jawa Tengah untuk melakukan anjang sana (kunjungan).
“Dengan cara ini, tidak semua siswa harus ikut, cukup perwakilan saja. Namun, ilmu yang didapat bisa tetap kita adopsi dan terapkan di sini,” pungkasnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Aas Arbi











