LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Jembatan penghubung antara Kampung Cipedang dan Kampung Sindangsari di Desa Cipedang, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, tak terawat dan lantainya berlubang, Minggu, 21 Juli 2024.
Diketahui kondisi jembatan sekilas tampak kokoh. Namun, besi dan lantai jembatan sudah berkarat, rusak, dan berlubang. Bahkan, kondisi rusaknya jembatan ini telah lama menjadi keluhan masyarakat setempat.
Mulyadi, warga Desa Cipedang, mengungkapkan bahwa jembatan tersebut belum pernah diperbaiki sejak dibangun beberapa puluh tahun yang lalu.
“Jembatan ini kondisinya rusak berat. Kami mohon kepada pemerintah untuk segera memperbaikinya,” kata Mulyadi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu 21 Juli 2024
Dijelaskannya, jembatan tersebut dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, dengan wakilnya Masduki, saat itu. Menurutnya, kerusakan terparah terletak pada besi plat bagian bawah yang harus segera diganti.
Lebih lanjut, kodisi besi plat yang terpasang sangat tipis, menyerupai kaleng drum, sehingga tidak mampu menahan beban kendaraan bermotor dan sangat berbahaya jika dilintasi.
“Sebelumnya, jembatan tersebut pernah diperbaiki oleh Pemerintah Desa Cipedang dan masyarakat setempat secara swadaya, namun upaya ini tidak mencukupi untuk perbaikan total,” ucapnya.
Warga lainnya Cecep Dodi, menyampaikan Jembatan Cipedang merupakan akses penting bagi masyarakat untuk mengangkut hasil tani. Menurutnya ada ribuan nasib warga yang bergantung pada jembatan tersebut.
“Desa Cipedang daerah dengan lahan pesawahan yang luas, mencapai ribuan hektar, dan menghasilkan ribuan ton gabah setiap tahunnya. Jembatan ini sangat bermanfaat bagi warga, terutama saat musim panen padi, karena sering dilalui kendaraan roda dua dan roda empat,” tuturnya.
Ia menambahkan, kerusakan jembatan ini mengancam aktivitas ekonomi masyarakat Desa Cipedang yang sangat bergantung pada akses transportasi tersebut.
“Warga berharap pemerintah segera turun tangan untuk memperbaiki jembatan demi kelancaran aktivitas dan keselamatan bersama,” pungkasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











