TANGERANG,RADARBANTEN.CO.ID -Cakupan layanan air minum di Kabupaten Tangerang oleh Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Kerta Raharja (Perumdam TKR), tahun 2024 sudah mencapai 69,30 persen. Capaian ini sudah melebihi target yang dipasang pada tahun 2023 yakni 60 persen.
Direktur Utama (Dirut) Perumdam TKR, Sofyan Sapar mengatakan, pada Semester I Bulan Juni 2024, capaian layanan air minum di Kabupaten Tangerang sudah mencapai 69,30 persen.
“Tahun 2024 kita berhasil mencapai target 69,30 persen, dari target sejak tahun 2019-2023 itu harus 60 persen. Berarti kami sudah mencapai target yang sudah ditentukan,” ungkap Sofyan dikantornya, Jumat 26 Juli 2024.
Menurut Sofyan, 10 tahun kedepan dalam menyusun rencana target cakupan air minum, pihaknya akan menunggu RPJMD yang sedang dibuat kepala daerah yang baru, sesuai visi misinya.
“Tapi kalau bicara Rispam (Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum), kalaupun sampai 10 tahun kedepan, visi misinya masih 80 persen. Tapi kalau target RPJMN, 5 tahun kedepan harus 100 persen di seluruh Indonesia,” jelas Sofyan.
Sofyan mengatakan, luas total wilayah Kabupaten Tangerang adalah 1.001,86 km2, terbagi 29 kecamatan, 28 kelurahan dan 246 desa, serta kepadatan penduduknya mencapai 3,2 juta jiwa, maka tidak mudah untuk menciptakan akses penyediaan air minum yang terintegrasi.
Namun, dengan tantangan besar seperti itu, Kabupaten Tangerang termasuk yang paling sukses memberikan layanan air minum dibanding Kabupaten/Kota di Indonesia.
“Sebagai contoh beratnya medan dilapangan, kalau kita bangun saluran perpipaan dari ujung Kecamatan Teluknaga ke ujung Kecamatan Solear, itu kayaknya kalau naik motor, pergi pagi pulang sore. Artinya luas sekali wilayah Kabupaten Tangerang yang harus kita layani,” jelasnya.
Sofyan menambahkan, tantangan Perumdam TKR adalah memastikan seluruh warga Kabupaten Tangerang dapat terlayani air minum perpipaan, sesuai visi misi Perumdam TKR “Mengaliri air secara perpipaan”.
“Jadi memasang pipa 5 tahun belakang ini saja luar biasa, dan tantangan kedepan kita akan pasang pipa lagi,” ujarnya.
Menurut Sofyan, problem lain yang menjadi tantangan adalah harus memilih antara memasang pipa supaya terintegrasi atau lebih dulu mencari sumber air.
Dalam kasus ini, ia memutuskan untuk memasang pipa yang terintegrasi diseluruh wilayah Kabupaten Tangerang terlebih dahulu. Hal itu menjadi prioritas pihaknya untuk saat ini.
“Muncul pertanyaan, mau pasang pipa dulu atau cari air dulu? Problem lagi. Udah dipasang pipanya, airnya tidak ada atau nanti airnya ada pipanya tidak ada. Maka kemudian saya sebagai Dirut mengambil keputusan, pasang dulu pipanya, daripada menunggu air tapi pipa tidak ada. Baru nanti perlahan pembenahan airnya,” jelasnya.
Sofyan mengatakan, hampir 80 persen wilayah Kabupaten Tangerang dihuni oleh warga Perumahan. Persoalan juga muncul saat warga perumahan sudah lebih dulu memasang sumur dirumah mereka sebagai sumber air baku, sehingga malas untuk beralih ke sumber air perpipaan Perumdam TKR.
“Nah ini tantangan lagi, bagaimana kita mensosialisasikan program air bersih dan mempromosikannya, supaya warga mau beralih ke air perpipaan. Apalagi sudah ada spirit di UU SDM yang ketat dalam penggunaan air tanah. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang untuk mensosialisikannya ke warga agar mau beralih ke air perpipaan,” ujarnya.
Sofyan mengatakan beberapa wilayah yang mulai dilakukan peralihan air tanah ke air perpipaan terjadi di wilayah Kelapa Dua, Legok dan Curug.
Di tempat ini, sudah terpasang pipa yang bahkan sudah 20 tahun belum ada air perpipaan yang masuk ke wilayah tersebut. “Maka itu menjadi terobosan saya,” ujarnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











