LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mencatat ada tiga desa yang saat ini mengalami kekeringan. Tiga desa tersebut diantaranya Desa Prabugantungam, Kecamatan Cileles, Desa Cempaka, Kecamatan Warunggunung dan Desa Gunungbatu, Kecamatan Cilograng.
Diketahui sebelumnya, BPBD Lebak telah mencatat 70 desa rawan kekeringan di Kabupaten Lebak dengan total 17.962 Kepala Keluarga (KK) kesulitan air bersih.
Desa rawan kekeringan tersebar di 20 Kecamatan dengan total 17.962 Kepala Keluarga (KK) kesulitan air bersih.
Salah satu kampung yang mengalami kekeringan, yakni di Kampung Cidokdok, Desa Prabu Gantungan, Kecamatan Cileles, yang mengalami krisis air bersih saat musim kemarau tiba. Dampak musim kemarau yang terjadi sejak Juli 2024 menyebabkan sejumlah warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Guna mencukupi kebutuhan sehari-hari, warga terpaksa berjalan kaki sejauh 1 kilometer.
Euis salah seorang warga, menuturkan kondisi ini sudah terjadi sejak dua bulan lalu lantaran sumur di tempat mereka mengering sehingga mereka terpaksa mengkonsumsi air yang berada di sisi sawah.
“Jadi musim kemarau, kondisi sumur kering dan jadi udah dua bulan gak ada airnya. Jadi setiap hari ngambil air kesini, kadang kalo pagi disini ngantri ya,” kata Euis kepada RADARBANTEN.CO.ID, Selasa 27 Agustus 2024.
Menurutnya, dirinya harus berjibaku dan menempuh perjalanan jauh sekitar 1 kilometer. Kondisi tersebut dilakukan untuk mengambil air dari sumur yang jauh dari perkampungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Jadi sumur di rumah kering gak ada airnya, kalo disedot menggukan mesin airnya gak ada. Makanya kita sering mengambil air kesini sering antre,” terangnya.
Ketua RT Jaenudin mengungkapkan untuk memenuhi kebutuhan mencuci serta memasak, warga akhirnya secara terpaksa mencari air bersih hingga ke sisi sawah dengan jarak 1 kilometer.
“Jadi kekeringan terjadi sudah 2-3 bulan kesini ya, jadi setiap hari warga antre disini. Kadang-kadang dari jam 05.00 WIB pagi sudah kumpul disini,” ucapnya.
Ia menambahkan, sumber air bersih saat ini, hanya mengandalkan sumur satu-satunya di dekat sawah, yang menjadi sumber mata air yang berada di wilayah mereka.
“Sekitar ada 50 warga di kampung ini yang terdampak, setiap hari antre kaya gini. Untuk debit air di sumur lumayan sedikit membantu warga,” tuturnya. (*)
Editor: Bayu Mulyana











