SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Mendaki gunung merupakan hobi yang tidak terpisah dari M Fakhrudin. Dosen dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) ini mengaku sudah menaklukkan berbagai gunung di Indonesia.
Mendaki gunung adalah hobi yang telah dilakukan oleh pria asal Malingping, Banten ini sejak masih siswa sekolah dasar atau SD. Ketika itu, sudah beberapa kali mendaki bukit-bukit kecil yang ada di kampungnya. “Awalnya sejak SD, saya mulai daki bukit-bukit kecil,” ujarnya, Sabtu, 7 September 2024.
Pria yang akrab disapa Fakhru ini mulai aktif mendaki gunung sejak 2018. Awalnya, ia mendaki tiga gunung yang di Banten. Gunung itu yakni Pulosari, Karang dan Aseupan. “Awalnya daki gunung yang ada di Banten itu seperti Gunung Karang, Gunung Aseupan dan Pulosari,” kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo ini.
Seakan bosan dengan gunung yang ada di Banten, Fakhru mulai mendatangi gunung lain di wilayah Indonesia seperti di wilayah Jawa, Lombok dan Bali. Di sana, Fakhru mulai menemukan berbagai macam tantangan untuk ditaklukkan.
“Saya pernah ke Gunung Ciremai, Merbabu, Agung, Semeru, Rinjani dan gunung lain di Indonesia. Terakhir di Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat,” ungkap dosen jurusan ekonomi syariah ini.
Fakhru mengatakan, untuk mendaki gunung tersebut diperlukan persiapan yang matang. Sebab, pendakian gunung sangat menguras energi. Untuk itu diperlukan persiapan berupa olahraga baik itu angkat beban dan lari.
“Angkat beban ini perlu dilakukan karena itu membawa barang bawaan, beratnya bisa sampai 15 kilogram. Kalau lari, untuk fisik agar benar-benar kuat selama perjalanan, minimal sebulan kita persiapan,” katanya.
Diakui Fakhru, untuk mendaki gunung di luar daerah Banten biasanya memerlukan waktu lebih dari dua hari. Gunung Agung di Bali misalnya, gunung dengan ketinggian 3.142 MDPL itu ditempuh dengan waktu selama tiga hari. “Kalau kita Gunung Rinjani memerlukan waktu hingga empat hari pendakian,” katanya.
Untuk menaklukkan gunung-gunung tinggi tersebut, Fakhru tidak seorang diri. Ia bersama tim yang dinamai From Zero to Thousands -MASL-. Timnya ini secara bersama-sama akan saling dukung satu sama lain.
“Kita enggak bisa sendiri, harus bareng-bareng kompak. Kita enggak tahu kejadian apa yang bisa terjadi di gunung. Sebab, kita pernah menemukan pendaki yang ditinggalkan oleh temannya karena kakinya tekilir. Akhirnya, kita bantu untuk turun ke bawah,” kenangnya.
Diakui Fakhru, hobi mendaki gunung bukan hobi yang mudah. Bahkan, hobi itu dapat mengancam jiwa. “Di Gunung Rinjani, pernah ada orang Finlandia yang terjatuh dan meninggal dunia. Selain itu, di gunung bisa menyebabkan hipotermia yang juga dapat menyebabkan orang meninggal dunia,” katanya.
Karena hobi naik gunung berbahaya, maka sambung Fakhru perlu persiapan matang dan kerja sama dengan tim. Ia pun menyebut beberapa tips yang harus dilakukan agar mendaki gunung dapat selamat sampai tujuan.
“Yang pertama itu perbekalan kita harus sudah siap semua, nikmati perjalanan dan jangan cepat ingin sampai. Kemudian, istirahat yang cukup dan tentunya fisik harus siap. Selain itu juga harus hati-hati saat pendakian,” katanya.
Saat mendaki gunung, pendaki kata Fakhru juga harus memperhatikan kearifan lokal yang ada di sana. Sebab, beberapa kejadian mistis pernah terjadi seperti tersesat di jalur pendakian. “Kearifan lokal disana harus dihormati seperti tidak boleh melanjutkan pendakian saat magrib,” katanya.
Fakhru mengungkapkan, meski hobi mendaki gunung berbahaya dan menguras energi, namun hal itu akan terbayarkan dengan keindahan alam yang ada di pegunungan. Panorama alam di pegunungan diakuinya membuat mata akan terpana.
“Kepuasan kita itu hanya keindahan alamnya. Menurut saya dan orang juga, gunung yang indah di Indonesia itu, Gunung Rinjani. Disana sangat lengkap, ada view alam mempesona seperti sunset, sunrise, air terjun dan safananya. Selain itu, disana juga ada tempat untuk memancing,” katanya.
Fakhru mengungkapkan, dirinya saat ini berencana untuk mendaki Gunung Kerinci di Jambi. Ia mengagendakan pendakian itu pada tahun depan. “Insya Allah tahun depan ke Gunung Kerinci, mudah-mudahan bisa terlaksana,” tutur ayah dua anak ini.
Editor : Merwanda











