Penulis: Bagus Darmawan
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang di tandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dari rata-rata anak seusia nya. Pencegahan stunting penting dilakukan karena prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%) dan menduduki peringkat kelima dunia. Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi pervalensi stunting perlu dilakukan pencegahan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita.
Sejalan dengan itu, stunting juga disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, baik pada ibu selama kehamilan maupun pada anak saat sedang tumbuh, Pencegahan stunting penting untuk dilakukan dengan medukasi masyarakat. Kali ini, penulis menyoroti bentuk edukasi dan sosialisasi pencegahan stunting yang dilaksanakan oleh beberapa Mahasiswa di Kelurahan Cilowong dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang Kampus Kota Serang.
Berdasarkan Global Nutrition Report 2016, Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara dengan prevalensi Stunting, sehingga Indonesia berada di peringkat kedua dengan prevalensi Stunting tertinggi setelah Kamboja di kawasan Asia Tenggara. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari 17 negara yang mengalami beban ganda gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi (IFPRI, 2014). Sebanyak 150,8 juta jiwa atau 22,2% balita di dunia yang mengalami stunting, Indonesia berada pada urutan ke 5 dengan jumlah balita stunting tertinggi sebanyak 3,9%, sedangkan yang diurutan petama sebanyak 31,2% ada di India (OMS, 2018).
Ditambah Stunting dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak-anak dan generasi masa depan. Stunting dapat terjadi ketika anak mengalami kekurangan gizi kronis yang menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan otak, serta dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, kesehatan, dan produktivitas mereka di masa depan. Pencegahan stunting bertujuan untuk mendorong masyarakat agar dapat memberikan asupan gizi yang cukup pada anak-anak dan ibu yang sedang hamil. Masyarakat juga diharapkan dapat lebih memahami penting nya pencegahan stunting dilakukan pada saat anak tumbuh di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain itu, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pencegahan terjadinya stunting pada anak dan ibu yang sedang hamil merupakan bagian aspek yang sangat perlu disentuh untuk diberikan edukasi dan pemahaman sehingga publik dapat mengurangi resiko terjadinya stunting pada anak di usia dini.
Adapun pencegahan stunting yang dapat dilakukan antara lain; 1) Pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil; 2) ASI eksklusif sampai umur 6 bulan dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya; 3) Memantau pertumbuhan balita di posyandu; 4) Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan. Sedangkan, Teori H.L Bloom dalam ilmu kesehatan menjelaskan bahwa kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu (1) lingkungan seperti ekonomi, social, politik dan budaya; (2) perilaku (life style); (3) pelayanan kesehatan; dan (4) keturunan atau genetic.
Tindakan kongkrit lainnya yang perlu didorong sebagai bentuk pencegahan stunting; kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pencegahan stunting, pentingnya komitmen pemerintah dalam mengatasi permasalahan stunting, dan keterlibatan masyarakat itu sendiri untuk dapat berpartisipasi dalam pencegahan stunting.
Dengan demikian, edukasi dan sosialisasi peningkatan pencegahan stunting yang dilakukan oleh Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Universitas Pamulang Kampus Serang di Desa Cilowong merupakan langkah awal dalam mendukung perkembangan masa depan anak-anak dan ibu hamil untuk bisa memberikan asupan gizi yang cukup. Program pengabdian ini tidak hanya menigkatkan pemahaman tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengetahui pentingnya pencegahan stunting. (*)











