LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Satu dekade lebih, Mustaqim (13) dan Rufita (17) hidup dengan kondisi lumpuh layu. Tak seperti remaja pada umumnya yang bisa beraktivitas dengan bebas, kedua anak tersebut hanya bisa terbaring dan menggantungkan hidup pada kasih sayang orang tuanya, Ripai dan Uus, di Kampung Cepak Kandang, Desa Cisimeut, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.
Sebagai seorang ibu, Uus mengungkapkan bahwa ia tidak pernah mengeluh merawat kedua anaknya, meskipun tantangan ekonomi sering kali menghalangi mereka untuk mendapatkan perawatan medis yang layak.
Sejak kondisi Mustaqim dan Rufita terlihat pada usia tujuh bulan, Uus dan suaminya sudah berusaha membawa anak-anaknya berobat secara tradisional maupun medis.
Namun, masalah biaya pengobatan menghalangi harapan mereka.
Pada tahun 2013, Uus sempat membawa anak-anaknya ke RSCM untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasilnya, dokter mendiagnosis gangguan saraf dan menyarankan terapi fisioterapi dua kali seminggu.
Sayangnya, keterbatasan biaya membuatnya terhenti di tengah jalan.
“Suami saya hanya seorang kenek kuli bangunan, jadi kami harus memilih antara mengobati anak-anak atau memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami cuma berharap ada jalan, ingin melihat anak-anak bisa bermain seperti remaja lainnya,” katanya kepada Radarbanten.co.id, Rabu, 8 Januari 2024.
Setiap hari, Uus merawat kedua anaknya dengan penuh perhatian. Tugasnya mengganti popok, pakaian, menggendong, dan menyuapi kedua anaknya yang sering kali rewel.
Meski terkadang merasa sedih melihat teman seusia anaknya yang aktif bermain, Uus tetap berjuang tanpa henti.
“Kami sudah berusaha sekuat tenaga, bawa anak-anak ke sana-sini. Tapi mungkin memang ini takdirnya,” ujarnya.
Uus menceritakan bahwa keduanya lahir normal, namun kelumpuhan mulai muncul ketika Mustaqim dan Rufita menginjak usia tujuh bulan. Kondisi mereka semakin memburuk meski sudah menjalani berbagai upaya pengobatan.
Kini, Uus hanya berharap ada bantuan dari pemerintah atau dermawan yang dapat meringankan beban pengobatan kedua anaknya. Meskipun ada bantuan sembako dari desa, Uus berharap, dukungan berupa biaya pengobatan yang lebih spesifik.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak telah menemukan pendampingan pada 2015.
“Ketika kami cek, memang benar ada gangguan saraf yang mempengaruhi kondisi mereka,” kata Fahmi, staf Dinkes Lebak.
Semoga perhatian dari berbagai pihak dapat memberikan harapan baru bagi keluarga Uus, agar kedua anaknya bisa kembali menjalani hidup seperti remaja lainnya.
Editor: Agus Priwandono











