CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kelompok pengusaha muda di Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon, menyayangkan sikap manajemen PT Growth Java Industry (GJI) di Ciwandan yang dinilai tidak kooperatif terhadap pelaku usaha di Kota Cilegon.
Kekecewaan tersebut dipicu oleh sulitnya pihak perusahaan untuk diajak berdialog, meski sudah dilakukan beberapa kali upaya pendekatan.
Abdul Kahfi Madani, pemuda lingkungan Umbul Jabar, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah tiga kali mencoba untuk bersilaturahmi dengan manajemen PT GJI namun tidak mendapat respons.
“Sebagai tetangga yang baik, seharusnya mereka tidak sombong dan angkuh. Kami hanya ingin menciptakan iklim usaha yang sehat dan adil. Karena tidak diindahkan, kami akan kembali datang dengan mengerahkan massa dalam bentuk aksi sebagai wujud aspirasi,” kata Kahfi kepada wartawan, Kamis (10/4/2025).
Pengurus PT Karya Putra Umbul, Hamimi, meminta manajemen PT GJI untuk lebih terbuka dan tidak menutup ruang bagi pelaku usaha muda. Ia mengkhawatirkan adanya praktik monopoli usaha yang berdampak pada persaingan tidak sehat.
“Pada prinsipnya kami mendukung investasi di Cilegon. Tapi kami yang ada di lingkungan terdekat juga harus dilibatkan, bukan hanya menerima dampak negatifnya,” ujarnya.
Direktur PT Karya Putra Umbul, Agung, turut menyuarakan kekecewaannya terhadap sikap perusahaan yang dinilainya arogan. Menurutnya, PT GJI seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
“Jika pelaku usaha lokal diberi kesempatan, bahan baku, tenaga kerja, dan potensi lainnya bisa dimanfaatkan, sehingga membawa manfaat ekonomi nyata bagi warga sekitar,” tegas Agung.
Agung juga berharap adanya dukungan dari Pemerintah Kota Cilegon dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Cilegon untuk menjembatani komunikasi antara perusahaan dan pengusaha lokal.
Sementara itu, tokoh pemuda Kelurahan Kepuh menilai komunikasi antara PT GJI dengan masyarakat selama ini sangat minim. Hal tersebut dinilai menjadi pemicu munculnya berbagai persoalan.
“Jika pola komunikasinya baik, semua pihak akan saling menghargai. Tapi jika tidak, akan muncul kesalahpahaman yang berujung pada konflik,” tuturnya.
Editor: Aas Arbi











