CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Kualitas udara di Kota Cilegon pada Jumat, 18 April 2025, tercatat dalam kategori lumayan dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) di angka 31.
Meski secara umum masih dapat diterima bagi masyarakat luas, kondisi ini tetap menyimpan risiko bagi kelompok rentan, seperti penderita asma, lansia, anak-anak, dan individu dengan gangguan pernapasan.
Menurut data yang dihimpun dari AccuWeather, tingkat polutan utama yang terpantau mendominasi hari ini adalah partikulat halus PM 2.5, yang mencatatkan angka 9 µg/m³.
PM 2.5 dikenal sebagai salah satu polutan paling berbahaya karena ukurannya yang sangat kecil, kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga mampu masuk hingga ke dalam paru-paru dan aliran darah. Keterpaparan jangka panjang terhadap partikel ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.
Selain itu, sulfur dioksida (SO₂) juga terdeteksi dalam kadar 46 µg/m³, masih dalam kategori lumayan. Gas ini dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, terutama bagi penderita bronkitis kronis dan asma.
Sedangkan kadar partikulat PM 10 terukur sebesar 15 µg/m³. PM 10 merupakan partikel yang lebih besar dibanding PM 2.5, namun tetap berisiko menyebabkan gangguan pernapasan jika terhirup secara terus-menerus.
Untuk polutan lain seperti ozon permukaan (O₃), nitrogen dioksida (NO₂), dan karbon monoksida (CO), semuanya tercatat dalam kategori bagus sekali.
Tingkat ozon berada di 41 µg/m³, NO₂ di angka 3 µg/m³, dan CO sebesar 215 µg/m³. Artinya, konsentrasi zat-zat tersebut masih berada dalam batas aman dan belum menimbulkan dampak signifikan terhadap kesehatan.
Berdasarkan skala penilaian kualitas udara, kategori lumayan (AQI 20–49) berarti udara masih cukup aman untuk aktivitas di luar ruang bagi sebagian besar masyarakat.
Namun, kelompok sensitif sebaiknya tetap menghindari paparan terlalu lama atau memanfaatkan masker dan pelindung lainnya saat berada di luar ruangan.
Cilegon dikenal sebagai kawasan industri terbesar di Provinsi Banten. Kehadiran berbagai pabrik besar di kota ini kerap dikaitkan dengan meningkatnya kadar polutan di udara.
Meski sebagian emisi berasal dari kendaraan dan pembakaran domestik, aktivitas industri tetap menjadi kontributor utama.
Editor: Aas Arbi











