CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Pernyataan Ketua Karang Taruna Kota Cilegon, Edi Firmansyah, yang menyebut aksi mahasiswa tidak beretika menuai kecaman dari berbagai pihak.
Kritik keras datang dari kalangan mahasiswa hingga organisasi kepemudaan yang menilai pernyataan tersebut tidak mencerminkan semangat demokrasi.
Sebelumnya, Edi Firmansyah dalam salah satu media elektronik menyatakan bahwa mahasiswa pada momentum Riung Mungpulung HUT Cilegon pada Senin 27 April 2026 dinilai tidak beretika.
Sekretaris DPD Gema Al-Khairiyah Kota Cilegon, Bustomi, menilai pernyataan tersebut tidak tepat dan justru terkesan menyudutkan gerakan mahasiswa.
“Sebagai sesama bagian dari elemen masyarakat, sebelum menilai etika orang lain, sebaiknya berkaca pada diri sendiri dan organisasi yang dipimpin,” ujarnya, Rabu 29 April 2026.
Ia menambahkan, aksi mahasiswa saat peringatan HUT ke-27 Kota Cilegon merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi daerah, khususnya terkait meningkatnya pengangguran dan ketimpangan akses beasiswa.
“Ini bentuk kecintaan kami terhadap Cilegon. Kami ingin pemerintah fokus pada peningkatan kualitas SDM,” katanya.
Senada, Ketua Umum HMI Cabang Cilegon, Tb Rizki Andika, juga mengecam pernyataan Edi Firmansyah yang dinilai tidak objektif dalam melihat dinamika sosial.
“Kami mengecam keras pernyataan tersebut. Seharusnya sebagai bagian dari pemuda, ia mampu berpijak pada data dan realitas, bukan sekadar melihat seremonial pembangunan,” ujarnya.
Rizki menilai, masih banyak persoalan yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah. Di antaranya peningkatan angka pengangguran yang disebut naik dari sekitar 6 persen menjadi 7 persen dalam kurun waktu satu tahun.
Selain itu, ia juga menyoroti ketergantungan fiskal daerah terhadap pemerintah pusat serta belum optimalnya peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam mendorong ekonomi lokal.
“Ini menunjukkan kinerja pemerintah belum maksimal. Kritik mahasiswa harus dilihat sebagai bahan evaluasi,” katanya.
Sementara itu, Direktur Fattah Cendikia Institute, Sayuti Zakaria, menilai narasi yang menyebut mahasiswa tidak beretika merupakan pandangan yang berbahaya bagi demokrasi.
“Mahasiswa adalah kekuatan moral dan kontrol sosial. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab intelektual, bukan tindakan yang melanggar etika,” ujarnya.
Menurutnya, demokrasi tidak bisa dibatasi oleh standar “kenyamanan penguasa”. Ia menegaskan pentingnya membedakan antara kritik dan penghinaan.
“Pemimpin seharusnya fokus pada substansi kritik, bukan pada cara penyampaiannya. Jangan sampai kritik dibungkam dengan label tidak sopan,” tegasnya.
Sementara itu, Edi Firmansyah membenarkan pernyataannya terkait aksi mahasiswa yang dinilainya tidak beretika.
“Ya,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi Radar Banten Rabu 29 April 2026.
Editor: Abdul Rozak










