PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Banten melakukan uji sampel terhadap bahan-bahan pembuatan bubur suro dalam gelaran Festival Bubur Suro 2025 di Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, Senin 7 Juli 2025.
Bubur suro merupakan hidangan tradisional yang biasanya disajikan pada 10 Muharram sebagai bagian dari peringatan Tahun Baru Islam. Makanan ini tidak hanya bernilai kuliner, tetapi juga menyimpan makna religius dan sejarah yang kuat bagi masyarakat setempat.
Kepala BPOM Banten, Mojaza Sirait, mengatakan pihaknya hadir dalam festival untuk memastikan keamanan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Pemeriksaan dilakukan terhadap bahan-bahan mentah maupun olahan, dengan standar pengawasan sanitasi yang ketat.
“Bubur suro ini kan khas pada 10 Muharram. Dalam kapasitas kami sebagai pengawas obat dan makanan, tentu kami hadir untuk memberikan edukasi dan memastikan bahan yang digunakan aman, segar, serta pengolahannya memenuhi standar sanitasi,” ujar Mojaza.
Selain melakukan uji sampel, BPOM juga membuka stan edukasi bagi warga yang hadir. Edukasi diberikan mengenai pentingnya menjaga kebersihan pangan serta proses pengolahan yang baik dan sehat.
Mojaza menekankan bahwa keamanan makanan menjadi aspek penting dalam mendukung kepercayaan masyarakat terhadap produk lokal.
“Kita ingin makanan yang disajikan bukan hanya enak, tapi juga sehat. Kalau sehat, masyarakat percaya. Ini juga menunjukkan sinergi antara pemerintah desa dengan instansi lain, termasuk BPOM,” katanya.
Ia menambahkan, pihaknya mendukung penuh penyelenggaraan Festival Bubur Suro yang diinisiasi oleh pemerintah Desa Bandung. Dukungan tidak hanya berupa pengawasan, tetapi juga pembinaan berkelanjutan dalam hal keamanan pangan.
“Selain mengedukasi, kami juga memastikan makanan dan minuman yang disajikan aman, termasuk bahan bakunya tadi semua aman,” ujarnya.
Mojaza mengungkapkan bahwa sejak dua tahun terakhir, Desa Bandung menjadi lokasi binaan program keamanan pangan oleh BPOM. Di desa ini, telah dibentuk kader keamanan pangan yang telah mendapatkan pelatihan teknis, praktik lapangan, hingga penggunaan rapid test untuk mendeteksi bahan berbahaya.
“Kader ini menjadi perpanjangan tangan kami di lapangan. Mereka rutin kami dampingi, terutama dalam kegiatan besar seperti festival bubur ini,” kata Mojaza.
Tidak hanya berfokus pada makanan tradisional, BPOM juga membuka peluang pendampingan bagi produk pangan desa yang ingin dikembangkan menjadi produk olahan bersertifikat. Ia berharap, produk lokal dari desa bisa naik kelas dan menembus pasar formal.
“Kami siap mendampingi hingga produk desa bisa masuk ke pasar resmi, sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Aditya











