LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Hidup dalam keterbatasan, Nenek Rumi (70) di Kampung Margamulya, Desa Cigoong Utara, Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, tetap tegar merawat dua anaknya yang berkebutuhan khusus meski tinggal di rumah reyot dengan kayu lapuk.
Setiap hari, Rumi merawat Anas dan Mahdhafi, dua anak laki-lakinya yang membutuhkan perhatian penuh mulai dari makan, mandi, hingga kebutuhan harian lain. Di usia senja, ia justru harus menjadi tulang punggung keluarga tanpa penghasilan tetap.
Dari tiga anak yang dimilikinya, hanya Mimin yang kini tinggal dan bekerja di Jakarta. Anak bungsunya itu rutin mengirimkan uang untuk membantu ibunya mengurus kedua kakaknya.
“Alhamdulillah, ada Mimin yang kadang kirim buat makan. Tapi namanya juga kerja di Jakarta, tidak selalu bisa banyak,” ujar Rumi saat ditemui RADARBANTEN.CO.ID, Jumat 5 September 2025.
Kehidupan Rumi semakin berat sejak enam tahun lalu, ketika sang suami meninggal dunia. Sejak saat itu, ia mengurus segalanya seorang diri.
“Bapak sudah enggak ada. Sejak itu saya sendiri ngurus semuanya. Kadang sedih, tapi saya harus kuat,” ucapnya.
Tanpa penghasilan tetap, Rumi hanya bergantung pada kiriman Mimin dan bantuan tetangga sekitar. Meski sering merasa putus asa, cintanya pada anak-anak membuatnya tetap bertahan.
“Saya cuma bisa berdoa, semoga Allah kasih kesehatan dan kekuatan buat saya,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Rumi mengaku sering khawatir dengan masa depan anak-anaknya. Ia takut jika suatu saat tidak lagi mampu merawat mereka.
“Saya enggak tahu nanti gimana nasib mereka kalau saya sudah enggak ada. Itu yang paling saya takutkan,” tutur Rumi lirih.
Dalam sisa hidupnya, Rumi hanya berharap diberi kesehatan agar bisa terus menjaga kedua anaknya.
“Saya cuma ingin anak-anak tetap terurus. Selama saya masih kuat, saya akan terus jaga mereka,” pungkasnya.
Pemerintah desa setempat telah mengetahui kondisi keluarga Rumi, namun bantuan yang diberikan masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kisah ini menjadi potret nyata perjuangan warga miskin yang hidup di pelosok, jauh dari perhatian publik.
Editor: Aas Arbi











