SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Banjir Sumatera yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memicu kemarahan publik. Netizen menilai pemerintah gagal menjaga hutan.
Banjir tersebut menewaskan 174 orang. Sebanyak 79 orang dilaporkan hilang. Sebanyak 12 orang lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, banjir Sumatera memutus akses jalan. Warga juga kesulitan memperoleh bahan makanan.
Akibat kejadian ini, warganet menyerbu akun Instagram Kementerian Kehutanan dan Raja Juli Antoni. Mereka menuding negara lalai menjaga lingkungan.
Netizen menyampaikan kritik keras melalui kolom komentar.
“Pray untuk Kemenhut yang sering membiarkan pengrusakan hutan,” tulis akun citra_cip** pada Minggu, 30 November 2025.
Ia juga menyinggung izin tambang dan perkebunan sawit yang dinilai merusak alam.
Komentar keras juga datang dari akun luluk_iry**. Ia mempertanyakan fungsi Kemenhut.
“Izin tambang dibiarkan. Pembabatan hutan dibiarkan. Orang utan tidak dipedulikan,” tulisnya.
Akun fahmi**** ikut menyampaikan kekecewaan.
“Banjir Sumatera bukti kalian tidak becus kerja. Kalian jual hutan ke cukong,” tulisnya.
Sementara itu, akun jimyrise_*** menyoroti kinerja lembaga kehutanan.
“Kerja kalian nol. KPI kalian apa? Bisa-bisanya menyimpulkan gelondongan itu tumbang alami,” tulisnya.
Ia juga menuding pemerintah sengaja tidak menetapkan status bencana nasional.
“Semua takut kebusukan terbongkar,” lanjutnya.
Akun aya** menutup rangkaian kritik dengan tuntutan perubahan nyata.
“Yang dibutuhkan aksi. Bukan postingan. Alam sudah muak,” tulisnya.
Reporter: Fahmi
Editor: Aas Arbi











