PANDEGLANG – Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi menolak program translokasi (pemindahan) Badak Jawa dari Semenanjung Ujung Kulon menuju Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang. Penolakan itu disampaikan oleh Wakil Bupati setelah mendapatkan kabar matinya seekor Badak Jawa bernama Musofa dalam kandang perawatan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Kabupaten Pandeglang.
JRSCA seluas sekitar 5.100 hektar merupakan bagian dari kawasan TNUK yang berada pada bagian selatan Gunung Honje dan merupakan bagian dari lansekap alami habitat Badak Jawa.
Kawasan JRSCA dikelola sebagai perluasan habitat guna meningkatkan populasi alami Badak Jawa di TNUK.
Melalui penerapan teknik pengembangbiakan yang relevan, mempersiapkan individu Badak Jawa terpilih. Pada areal JRSCA telah terdapat sarana prasarana yang dibangun untuk mendukung studi atau riset yang didesain secara sistematis untuk meningkatkan pengetahuan mengenai biologi, ekologi dan perilaku, serta perkembangbiakan populasi Badak Jawa.
Namun dalam faktanya, satu ekor Badak Jawa bernama Musofa mati setelah dipindahkan atau translokasi dari Semenanjung Ujung Kulon menuju kawasan JRSCA.
Seekor Badak Jawa bernama Musofa mati setelah melewati proses translokasi dalam Kawasan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Musofa merupakan seekor Badak Jawa tidak dapat diselamatkan diduga karena bawaan penyakit kronis
Tujuan dari translokasi merupakan upaya pelestarian Badak Jawa melalui translokasi individu untuk penguatan populasi kembali dihadapkan pada tantangan alamiah. Petugas tidak dapat menolong Nyawa Badak Jawa akibat kondisi penyakit kronis bawaan.
Kematian Mustofa Badak Jawa, pasca translokasi (pemindahan) ke kawasan konservasi khusus Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), membuat Wakil Bupati (Wabup) Pandeglang Iing Andri Supriadi murka (sangat marah) dan menolak translokasi Badak Jawa dari habitat asli di Semenanjung Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Wakil Bupati Pandeglang Iing Adri Supriadi mengaku, kaget dan sangat prihatin atas matinya seekor Badak Jawa bernama Musofa.
“Kami, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang sangat berduka dan kehilangan salah satu Badak Cula Satu di Kabupaten Pandeglang. Karena Badak Jawa ini bagian dari ikon Pandeglang yang langka,” katanya, Selasa, 2 Desember 2025.
Oleh karena itu, keberlangsungannya perlu dijaga betul. Baik dari perburuan maupun dalam merawatnya.
“Maka dari itu kami berharap kepada pihak-pihak terkait khususnya Balai TNUK, untuk menjaga dan merawat dengan baik. Sehingga kematian akibat translokasi tidak terjadi lagi,” jelasnya.
Wabup Iing meminta, program translokasi atau pemindahan Badak Jawa dari Semenanjung Ujung Kulon menempati JRSCA. Khawatir nanti kembali mati.
“Badak Jawa bernama Musofa juga sebelumnya dikabarkan dalam kondisi baik. Namun setelah masuk JRSCA malahan mati,” katanya.
Wabup Iing menegaskan, program translokasi Badak Jawa beresiko tinggi apabila tetap dilanjutkan.
“Saya rasa Badak Jawa hidup sesuai dengan sebagaimana mestinya di habitat aslinya di kawasan Semenanjung TNUK. Untuk itu saya menolak adanya translokasi Badak Jawa ke JRSCA, karena khawatir kembali mati setelah dipindahkan,” katanya.
Wabup Iing berpendapat, saat Badak Jawa translokasi itu membutuhkan adaptasi. Jadi sebaiknya meningkatkan keamanannya ketimbang memindahkan Badak Jawa.
“Jangan sampai Translokasi Badak Jawa ini, minim kajian ilmiah dan analisis yang matang. Berisiko tinggi menyebabkan stres, gangguan kesehatan, atau kematian pada badak,” katanya.
Wabup Iing juga menyinggung pihak Balai TNUK kurang transparansi terhadap publik soal rencana translokasi tersebut. Serta sangat menyayangkan dengan sikap Balai TNUK yang tidak langsung menyampaikan ke publik kematian Musofa setelah translokasi.
“Tidak adanya transparansi terhadap publik. Harusnya, dilakukan kajian ilmiah dan analisis matang, setelah itu sampaikan ke publik, bagaimana dampak negatif dan positifnya. Jangan setelah mati baru diekspos, dan itupun tidak langsung disampaikan waktu saat kematiannya, termasuk tidak ada koordinasi kepada Pemkab Pandeglang,” katanya.
Kepala Balai TNUK, Ardi Andono menyampaikan bahwa proses translokasi Musofa telah melalui perencanaan matang.
“Melibatkan para ahli konservasi satwa liar dari dalam dan luar negeri, dokter hewan. Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta berbagai mitra konservasi,” katanya.
Translokasi ini merupakan sesuatu kebutuhan konservasi jangka panjang bagi spesies ini mengingat kondisi DNA yang sudah tidak baik lagi. Sehingga perlu upaya breeding sistematis.
“Termasuk pendekatan Assisted Reproductive Technology (ART) dan biobank bahkan untuk gen editing,” katanya.
Sebagaimana telah ketahui bersama, berdasarkan penelitian IPB University bahwa populasi Badak Jawa, DNA-nya hanya dari haplotype 1 dan haplotype 2.
“Untuk haplotype 1 telah mengalami inbreeding 58,5 persen sedangkan haplotype 2 adalah 6,5 persen. Seluruh prosedur, melaksanakannya ssesuai standar konservasi internasional, dengan simulasi, penilaian etik, serta kesiapan logistik dan pengamanan,” katanya.
Badak Jawa bernama Musofa telah pindah tanpa luka atau cedera. Namun penyakit kronis yang lama menjadi tantangan medis yang tidak dapat diatasi.
“Translokasi ini, merupakan tonggak penting dalam konservasi satwa liar Indonesia karena Musofa adalah Badak Jawa pertama yang translokasi,” katanya.
Hal ini bagian dari strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan populasi alam. Memperkuat keanekaragaman genetik, dan mengelola habitat secara terukur dan aman.
Lebih lanjut, Ardi menyampaikan kronologis peristiwa matinya Musofa dimulai saat Musofa berhasil masuk pit trap pada 3 November 2025. Kemudian, proses pemindahan setelah mempertimbangkan faktor cuaca ekstrem dan keselamatan satwa.
“Musofa tiba dalam area JRSCA pada 5 November 2025 dengan kondisi stabil dan menunjukkan respons adaptasi yang baik pada fase awal. Tim dokter hewan memberikan observasi ketat dan penanganan kesehatan sejak hari pertama,” katanya.
Namun, pada 7 November 2025, Musofa mengalami penurunan kondisi klinis. Tim medis pun segera memberikan penanganan darurat sesuai standar penyelamatan satwa liar. Sayangnya pada sore, pada hari yang sama, Musofa tidak dapat diselamatkan.
“Nekropsi dilakukan oleh tim patologi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University untuk memastikan penyebab kematian Musofa. Pemeriksaan menunjukkan adanya penyakit kronis yang sudah berlangsung lama pada lambung, usus, dan otak” katanya.
Insfeksi parasit dalam jumlah signifikan, serta tanda degenerasi jaringan. Selain itu tim menemikan luka lama akibat perkelahian dalam alam liar, yang menjadi faktor tambahan, namun bukan penyebab utama.
“Temuan ini memberikan gambaran penting bagi peningkatan standar pengelolaan kesehatan Badak Jawa di habitat alaminya,” katanya.
Balai TNUK bersama IPB University, akademisi lainnya, dan mitra konservasi akan menyiapkan langkah lanjutan berupa analisis komprehensif untuk penguatan deteksi dini penyakit, pengelolaan habitat, dan pemantauan kesehatan populasi.
“Kepergian Musofa merupakan kepedihan bagi kami dan tim di lapangan. Namun juga menjadi momentum refleksi atas kompleksitas konservasi spesies langka,” katanya.
Ketika, ditanyakan dengan diragukannya program translokasi, Ardi menegaskan, bahwa pihaknya tidak asal.
“SOP, analisa resiko, etika, simulasi, dan lain-lain kita lakukan dengan hati hati baik oleh ahli dalam maupun luar negeri. Kita ini bertahun tahun memastikan badak selamat, ditungguin lokasinya, di jaga, di cek tiap 5 hari kondisinya, dan ketika mati kami itu sangat bersedih, nangis semua,” katanya.
Mungkin, Ardi menerangkan, Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi belum menerima informasi yang utuh tentang translokasi.
“Pak Wabup mungkin belum menerima informasi utuh tentang translokasi, saya anggap wajar. Selama ini yang masuk SK translokasi adalah Ibu Bupati Pandeglang, mungkin itu aja,” katanya.
Ardi meyakini, Pemda Pandeglang akan mendukung karena selama ini aktif dalam mensosialisasikan juga ikut dalam tim translokasi. Pihaknya juga telah menyampaikan iinformasi progres operasi merah putih translokasi badak jawa kepada Asda 2 Pandeglang mewakili Bupati pada tanggal 20 November 2025.
“Pada prinsipnya pemda mendukung penuh translokasi Badak Jawa meskipun terjadi kematian pada Musofa. Mendukung penuh dilanjutkan nya operasi merah putih dan terkait parasit yang berada pada Badak Jawa, agar ada upaya strategis dan komprehensif sehingga badak jawa TNUK sehat,” katanya.
Jadi, Ardi menerangkan, kaitan berita kematian itu, pihaknya telah menyampaikan langsung kepada Bupati.
“Cuma karena beliau padat, saya diarahkan ke bu Asda,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











