CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID — Menjelang pergantian Tahun Baru 2025 ke 2026 Masehi, Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kota Cilegon mengajak umat Islam dan seluruh elemen bangsa untuk menyikapi momentum pergantian tahun secara bijak.
Ketua PD Muhamadiyah Kota Cilegon, Muhtar Maher, menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, Tahun Baru Masehi bukan merupakan hari raya keagamaan. Islam, kata dia, hanya mensyariatkan dua hari raya, yakni Idulfitri dan Iduladha.
“Tahun Baru Masehi adalah penanda waktu dalam kalender internasional, bukan perayaan agama Islam. Maka menyikapinya harus proporsional, tidak berlebihan, dan tidak bertentangan dengan akidah,” ujar Muhtar, Rabu 31 Desember 2025.
Ia menjelaskan, penggunaan kalender Masehi dibolehkan dalam Islam untuk keperluan administrasi, pendidikan, dan kehidupan sosial, selama tidak disertai ritual maupun keyakinan yang menyimpang.
Bahkan, momentum pergantian tahun dapat dimanfaatkan sebagai sarana muhasabah dan introspeksi diri.
“Pergantian tahun seharusnya menjadi waktu evaluasi diri, memperbaiki akhlak, meningkatkan ibadah, serta memperbanyak amal saleh. Inilah esensi Islam dalam memaknai waktu,” jelasnya.
Muhtar juga mengingatkan umat Islam agar menjauhi berbagai praktik maksiat yang kerap mengiringi perayaan tahun baru, seperti hura-hura berlebihan, konsumsi minuman keras dan narkoba, pergaulan bebas, serta pemborosan yang tidak membawa manfaat.
“Seorang Muslim wajib menjaga diri, keluarga, dan lingkungan sosial dari hal-hal yang merusak moral dan ketertiban,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris PDM Kota Cilegon, Mohammad Tahyar, menyoroti kondisi bangsa Indonesia yang dinilainya tengah berada dalam situasi penuh ujian dan ketidakpastian di penghujung tahun 2025.
“Kita harus jujur mengakui, bangsa ini sedang tidak baik-baik saja. Cobaan datang dari berbagai sisi, mulai dari bencana alam, krisis iklim, hingga problem kepemimpinan dan korupsi yang belum tuntas,” ungkap Tahyar.
Ia juga menyinggung masih lemahnya edukasi publik terkait penyebab bencana, tingginya angka korban jiwa, meningkatnya pengangguran dan kemiskinan, serta rendahnya daya beli masyarakat yang menjadi potret buram negeri di akhir tahun.
“Seolah-olah harga sebuah nyawa menjadi murah. Masalah datang silih berganti, tetapi penyelesaiannya tidak pernah tuntas,” kritiknya.
Menurut Tahyar, pergantian tahun tidak pantas dimaknai hanya dengan pesta kembang api, ritual mahal, atau perayaan seremonial yang minim substansi.
“Tidak cukup dan tidak pantas jika pergantian tahun hanya dimanifestasikan dengan euforia dan pemborosan. Bangsa ini butuh paradigma evaluasi diri dan evaluasi negeri,” tegasnya.
Editor: Abdul Rozak
Muhammadiyah Cilegon











