SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat terdapat sekitar 2.000 kasus suspek campak pada awal tahun 2026. Data tersebut diketahui berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan warga di tingkat puskesmas melalui kegiatan surveilans aktif.
Kepala Dinas Kesehatan Banten, Ati Pramudji Hastuti, mengatakan dari sekitar 2.000 kasus suspek tersebut, hingga Maret 2026 baru satu kasus yang dipastikan positif campak.
“Tahun 2025 kemarin, dari orang-orang yang dianggap suspek campak hasil screening kami karena melakukan surveilans aktif ditemukan sekitar 6.000 lebih suspek. Namun dari jumlah itu yang dinyatakan positif sekitar 510 kasus,” ujarnya, Minggu, 15 Maret 2026.
Berdasarkan data tersebut, Dinas Kesehatan menilai situasi tersebut berpotensi mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) sehingga berbagai langkah antisipasi telah dilakukan sejak awal tahun 2026.
“Berbekal dari situ kita menganggap ini mengarah ke KLB. Maka sejak Januari kami sudah mempersiapkan langkah antisipasi,” jelasnya.
Menurut Ati, hingga Maret 2026 dengan kembali dilakukannya surveilans aktif, jumlah suspek campak diperkirakan sudah lebih dari 2.000 orang.
“Dari suspek tersebut yang dinyatakan positif baru satu kasus, yaitu di Kota Tangerang,” katanya.
Ia menjelaskan, temuan suspek campak hampir merata di berbagai wilayah di Banten. Penyakit ini mudah menular karena gejala awalnya sering dianggap sebagai penyakit pernapasan biasa.
“Campak ini mudah tertular. Gejala awalnya mirip batuk, pilek, demam, lelah, dan letih, kemudian baru muncul bercak di wajah dan badan,” ujarnya.
Ati menambahkan, banyak kasus campak pada tahap awal sering dianggap sebagai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi ini membuat anak-anak tetap beraktivitas sehingga penularan dapat terjadi lebih cepat.
“Yang rentan itu anak usia 0 sampai 18 tahun, terutama usia sekolah seperti SD dan SMP,” katanya.
Meski jumlah suspek cukup tinggi, hingga kini Dinas Kesehatan memastikan belum ada laporan kematian akibat campak di Provinsi Banten sepanjang tahun 2026.
“Belum ada kematian dan jangan sampai terjadi. Karena kalau campak tidak sampai komplikasi, potensi kesembuhannya sangat besar,” tegas Ati.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aas Arbi











