SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Harga gas elpiji non subsidi di Kota Serang mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan ini terjadi di berbagai ukuran tabung dan mulai dirasakan masyarakat, khususnya pengguna rumah tangga.
Berdasarkan pantauan di lapangan, salah satu agen gas elpiji di PT Tulus Mulus mencatat lonjakan harga hingga 20 persen sejak pertengahan April 2026.
Untuk gas elpiji ukuran 12 kilogram, harga kini mencapai Rp228 ribu dari sebelumnya Rp192 ribu. Kenaikan ini menjadi perhatian karena ukuran tersebut paling banyak digunakan oleh masyarakat menengah.
Tak hanya itu, gas elpiji ukuran 5,5 kilogram juga mengalami kenaikan dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu.
Sementara itu, tabung gas ukuran besar 50 kilogram kini menembus harga Rp1.068.000 dari sebelumnya sekitar Rp835 ribu.
Security PT Tulus Mulus, Mulyadi, mengungkapkan kenaikan harga gas elpiji non subsidi tersebut sudah terjadi sejak 18 April 2026.
“Kenaikan sudah terjadi sejak 18 April kemarin,” ujar Mulyadi kepada Radar Banten saat ditemui di lokasi, Senin, 27 April 2026.
Meski harga mengalami kenaikan cukup tajam, Mulyadi menyebut kondisi penjualan masih tergolong normal dan tidak mengalami penurunan signifikan.
“Penjualan masih normal. Justru penurunan itu terjadi saat pandemi Covid-19 dulu,” katanya.
Ia menjelaskan, mayoritas pembeli gas elpiji non subsidi berasal dari kalangan rumah tangga yang memang bergantung pada ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram.
“Rata-rata untuk rumah tangga. Yang paling banyak dibeli itu ukuran 12 kilo sama 5,5 kilo,” jelasnya.
Dalam sehari, penjualan gas elpiji di agen tersebut bisa mencapai sekitar 30 tabung.
Namun, saat akhir pekan, jumlah penjualan meningkat hingga 50 tabung per hari.
“Per hari bisa terjual sekitar 30 tabung. Kalau weekend bisa sampai 50 tabung,” katanya.
Mulyadi juga menyebutkan bahwa pasokan gas elpiji yang mereka terima berasal dari wilayah Tangerang sebagai pusat distribusi. Namun, pihaknya tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga tersebut.
“Kita dapat kiriman dari Tangerang, pusatnya di sana. Soal kenaikan, kita juga tidak tahu penyebab pastinya,” ujarnya.
Reporter: Nahrul Muhilmi











