KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus di wilayahnya.
Kepala Dinkes Kota Tangsel, dr Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta surveilans penyakit infeksi emerging, belum terdapat laporan kasus Hantavirus di Tangsel. “Hingga saat ini belum ditemukan kasus Hantavirus di Kota Tangsel,” katanya, Sabtu, 16 Mei 2026.
Ia menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh Orthohantavirus. Penyakit itu ditularkan melalui tikus maupun celurut. Penularan dapat terjadi melalui urine, feses, saliva, hingga debu yang terkontaminasi.
Secara klinis, penyakit tersebut dapat menimbulkan dua bentuk utama. Yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejalanya mulai dari demam, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan berat.
Menurut Allin, kewaspadaan perlu ditingkatkan menyusul adanya laporan global terkait klaster kasus Hantavirus tipe HPS di kapal pesiar internasional yang berpotensi menyebabkan penyebaran lintas negara. Sementara di Indonesia, kasus Hantavirus tipe HFRS telah ditemukan di sejumlah provinsi sejak 2024 hingga 2026. Meskipun tipe HPS belum pernah dilaporkan. Namun, tetap berpotensi muncul sebagai kasus importasi.
Dinkes Lakukan Antisipasi
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Allin mengatakan, pihaknya terus memperkuat pengawasan melalui surveilans berbasis indikator dan Surveilans Berbasis Kejadian melalui SKDR guna memantau tren kasus ISPA, pneumonia, Severe Acute Respiratory Infection (SARI), hingga sindrom demam dengan gejala tidak spesifik.
Selain itu, fasilitas layanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas juga disiagakan untuk melakukan deteksi dini, penanganan awal, serta stabilisasi pasien. “Dinkes juga menyiapkan ruang isolasi sementara di fasilitas pelayanan kesehatan serta memperkuat sistem rujukan dan koordinasi dengan laboratorium rujukan,” tuturnya.
Allin mengimbau masyarakat agar menghindari kontak dengan tikus maupun kotorannya. Selain itu, menutup akses masuk hewan pengerat ke rumah, serta membersihkan lingkungan menggunakan metode pel basah apabila ditemukan jejak tikus. “Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” pungkasnya.
Editor : Rostinah











