PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang menargetkan produksi padi mencapai 817.026 ton pada 2026. Hingga April 2026, realisasi produksi padi tercatat 404.659 ton.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada DPKP Pandeglang, Nuridawati mengatakan, target produksi padi tersebut merupakan penetapan dari Pemerintah Pusat dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian di daerah.
“Target produksi padi tahun 2026 itu 817.026 ton. Sampai April, realisasinya sudah mencapai 404.659 ton,” kata Nuridawati, Selasa, 19 Mei 2026.
Menurutnya, penetapan target produksi padi dari Pemerintah Pusat yang memiliki program peningkatan produktivitas pangan nasional.
“Target itu dari pusat, bukan dari kami. Karena Pemerintah Pusat juga memiliki target capaian untuk meningkatkan produktivitas padi, salah satunya di Kabupaten Pandeglang,” ujarnya.
Untuk mendukung pencapaian target produksi padi, DPKP Pandeglang menyiapkan sejumlah program, salah satunya pemberian benih unggul berlabel kepada petani di 35 kecamatan.
Ia menjelaskan, benih unggul yang diberikan merupakan varietas padi Genjah yang memiliki masa panen lebih cepat dibandingkan padi biasa.
“Biasanya padi panennya 120 hari, tapi dengan benih Genjah bisa lebih cepat panen,” ungkapnya.
Selain bantuan benih, DPKP juga menyiapkan langkah penanganan terhadap kendala yang kerap dihadapi petani, seperti serangan hama dan tikus. Penanganan dilakukan melalui bantuan pestisida yang berasal dari buffer stock Pemerintah Pusat.
“Kalau ada laporan kelompok tani terserang hama, langsung kami respons dengan bantuan pestisida. Untuk hama tikus juga ada bantuan,” jelasnya.
Nuridawati menambahkan, penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam mendukung peningkatan produksi padi di Kabupaten Pandeglang. Sebab, para penyuluh menjadi perpanjangan tangan dinas di tingkat kecamatan.
“Penyuluh sangat berperan karena mereka yang langsung berkoordinasi dengan kelompok tani di lapangan. Kami juga terbantu karena keterbatasan pegawai di dinas,” katanya.
Meski demikian, DPKP Pandeglang mengakui masih menghadapi persoalan pemasaran hasil panen.
Sebagian besar hasil panen petani di Pandeglang masih dijual ke luar daerah seperti Karawang, Lampung, hingga Subang.
Menurut Nuridawati, kondisi itu terjadi karena banyak petani yang mendapatkan modal usaha dari tengkulak untuk kebutuhan pupuk, tenaga kerja hingga obat-obatan pertanian.
“Nanti hasil panennya harus dijual kembali ke tengkulak yang memberikan modal. Itu menjadi salah satu kendala di Pandeglang,” tuturnya.
Ia berharap, Program Koperasi Merah Putih yang digagas Pemerintah Pusat dapat menjadi solusi bagi petani untuk memperoleh akses permodalan tanpa harus bergantung kepada tengkulak.
“Mudah-mudahan dengan adanya Koperasi Merah Putih, kelompok tani bisa mendapatkan modal budidaya tanpa ketergantungan kepada tengkulak,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











