KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang memastikan penanganan medis terhadap warga terdampak asap kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin berjalan optimal. Berdasarkan data terbaru, seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing dan tidak ditemukan lagi kasus baru Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, mengatakan hingga Minggu, 13 Juli 2026, kasus ISPA yang dipicu paparan asap kebakaran TPA Jatiwaringin telah turun menjadi nol.
“Alhamdulillah, per hari Minggu kemarin angka ISPA akibat asap kebakaran tersebut sudah nol. Tidak ditemukan lagi kasus baru,” kata dr. Hendra, Selasa, 14 Juli 2026.
Meski kondisi telah membaik, Dinkes Kabupaten Tangerang masih mengoperasikan posko kesehatan keliling yang melibatkan tiga puskesmas, dengan Puskesmas Rajeg menjadi salah satu pusat layanan utama hingga masa pemulihan dinyatakan selesai.
Berdasarkan data Dinkes, sebanyak 1.285 warga telah mendapatkan pelayanan kesehatan sejak kebakaran terjadi. Dari jumlah tersebut, 398 orang didiagnosis menderita ISPA dan seluruhnya telah mendapatkan penanganan medis.
Dr. Hendra memastikan seluruh pasien kini telah sembuh dan tidak ada kasus yang berkembang menjadi pneumonia atau radang paru-paru.
“Pneumonia tidak ada karena cepat kita tangani dan berikan obat,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi peningkatan kasus ISPA selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026.
Menurutnya, pada kondisi normal, kasus ISPA menyumbang sekitar 15 hingga 20 persen dari total kunjungan pasien di puskesmas. Namun, cuaca kering selama musim kemarau berpotensi meningkatkan jumlah kasus.
“Secara endemi, porsi kasus ISPA normalnya berkisar 15 hingga 20 persen dari total kunjungan di setiap puskesmas. Dengan adanya musim kemarau ini, trennya berpotensi meningkat hingga menyentuh batas atas 20 persen,” jelasnya.
Dr. Hendra juga mengingatkan agar kelompok rentan, terutama balita dan lanjut usia (lansia), mendapat perhatian lebih karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi apabila ISPA tidak segera ditangani.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kabupaten Tangerang mengoptimalkan pemantauan melalui kader Posyandu Balita di setiap wilayah. Anak-anak yang mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, atau diare akan segera diperiksa untuk memastikan apakah hanya mengalami ISPA ringan atau telah berkembang menjadi pneumonia.
“Begitu ditemukan kasus, obat langsung diberikan dan perkembangannya terus dipantau,” katanya.
Editor: Mastur Huda











