Aroma asap rokok mudah menempel pada pakaian dan tubuh bagian luar. Apalagi jika berada di sebuah ruangan penuh dengan asap rokok, mau tidak mau yang namanya baju, celana, hingga rambut, akan tercium asap rokok. Nah, pada kasus rumah tangga Doni (35), nama samaran, aroma rokok bukan tercium pada rambut atau pakaian Putri (30), nama samaran istri Doni. Namun aroma itu tercium pada area-area sensitif, nah loh!
Hal ini membuat Doni merasa aneh, sebab dirinya bukan perokok aktif. Begitu pula Putri, setahu Doni dia juga bukan perokok. “Kalau kami mau hubungan badan, sering saya cium ada aroma rokok di bagian dadanya. Padahal dia sudah lepas baju, makanya saya heran juga,” ujar Doni.
Telah beberapa kali Doni mempertanyakan hal tersebut. Sayang Putri punya banyak stok alasan, sehingga Doni sulit untuk membongkar rahasia di balik aroma rokok itu. “Kalau saya tanya ada saja alasannya. Misalnya baju-baju miliknya sering dicampur dengan baju perokok di tempat laundry. Jadinya baju dia ikut-ikutan kena aroma rokok,” katanya.
Doni ini tipikal pria lugu, ia mudah percaya dengan kata-kata Putri. Apalagi Doni terlihat sangat mencintai Putri, karena itu dia percaya saja dengan alasan-alasan Putri. “Ya, kalau Putri bilang begitu, saya mau bilang apa. Lagi pula saya kan enggak punya bukti,” ujarnya.
Namun pada akhirnya, pasangan ini tetap bercerai. Tapi bukan Doni yang menceraikan Putri, melainkan Doni digugat Putri di Pengadilan Agama. Alasan Putri sih, karena faktor ekonomi. Namun ada dugaan jika Putri ingin menikah lagi dengan pria simpanannya, seseorang yang memiliki kebiasaan merokok, hmmm. “Orangtua saya yang paling curiga, khususnya ibu. Sebab ibu ngakunya pernah menyelidiki Putri. Tapi ibu enggak pernah bilang apa-apa tentang hasil penyelidikan itu,” terangnya.
Pada sidang perceraian Doni dan Putri, Tini (58), nama samaran ibu Doni, memang terlihat geram. Ia terlihat lebih marah ketimbang Doni yang saat itu sedang diceraikan Putri. “Jelas saya marah, sebab hanya saya yang tahu belangnya Putri seperti apa,” ujarnya.
Menurut Tini, ia mencurigai Putri setelah mendapatkan bisikan dari tetangga. Kebetulan, sang tetangga yang merupakan anggota klub gosip di kampung Tini mengaku, pernah melihat sosok Putri yang sebenarnya. “Ada yang laporan, kalau Putri punya side job. Dia melayani hidung-hidung belang di tempat kerja,” katanya.
Putri ini bekerja di sebuah restoran karaoke, posisinya hanya sebagai pramusaji biasa. Namun di malam-malam tertentu, Putri yang punya paras lumayan manis diberi pekerjaan sebagai pramusaji luar biasa. “Kalau tidak salah, setiap Jumat dan Sabtu, restoran tempat dia kerja bikin acara nyeleneh,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diterima Tini, pada hari-hari yang telah disebutkan, restoran ini berubah menjadi tempat dugem. Para pramusaji di restoran pun diberi pakaian istimewa, yakni pakaian seperti penari bugil. “Kata teman saya itu, para pelayannya cuma pakai pakaian dalam dengan rumbai emas,” tuturnya.
Para pelayan tidak diminta untuk menari striptis oleh pemilik restoran. Mereka tetap pada tugasnya menawarkan minuman. Bedanya, ada bonus untuk para pengunjung setiap kali membeli minuman keras yang dibawa pramusaji. Mereka diperbolehkan menyentuh area sensitif setiap pembelian satu sloki minuman keras. “Restoran ini terkenal karena ada program seperti itu,” aku Tini.
Pengakuan sang teman, ia tidak melihat Putri saat kongkow di tempat itu. Namun bagi Tini, hal tersebut sudah cukup untuk menjelaskan bagaimana aroma rokok kerap menempel di area sensitif Putri selama ini. “Makanya saya langsung benci sama si Putri ini,” ujarnya.
Meskipun Tini tahu akan sisi buruk Putri, namun ia tidak pernah membocorkan rahasia itu kepada Doni. Alasannya, karena dia takut perasaan Doni terluka jika mengetahui sisi gelap Putri. “Anak saya kelihatan cinta sekali dengan Putri. Kalau rumah tangganya saya ganggu, bisa-bisa saya ikut sedih. Makanya saya biarkan saja,” jelasnya.
Namun setelah mendapatkan kabar jika Putri mengajukan gugatan cerai, Tini marah bukan kepalang. Apalagi alasan yang digunakan Putri adalah ketidakmampuan Doni menghidupinya secara ekonomi. “Dia bilang kalau anak saya tidak mampu memenuhi kebutuhannya? Sombong sekali dia. Dia kira siapa dirinya itu,” kata Tini dengan ketus. (Sigit/Radar Banten)









