Setiap orang memiliki ciri khas di tubuh masing-masing. Ciri ini yang membedakan antara satu dengan lainnya. Tidak jarang ada yang berusaha keras untuk bisa terlihat berbeda dari yang lain. Seperti halnya para pesepakbola mancanegara yang senang mentato tubuhnya agar terlihat garang.
Namun berbeda dengan para pesepakbola mancanegara, Kiki (33), nama samaran, berharap jika tidak memiliki ciri khas. Ia ingin sekali sama dengan pria-pria biasa lain yang tidak memiliki ciri khusus pada tubuhnya.
Sebab ciri khusus pada tubuh Kiki dinilai memalukan. Ia memiliki tompel cukup besar di area mata. Tompelnya berbentuk bulat mengelilingi mata. Ukurannya pun besar, sehingga tompel Kiki bisa terlihat dari jauh. “Orang kalau melihat saya, yang pertama diperhatikan adalah tompel ini,” ujar Kiki.
Memiliki tompel tidak membuat kesehatannya terganggu. Namun itu memengaruhi kepercayaan dirinya. “Bikin sakit di badan si tidak, tapi di hati iya. Sejak kecil saya selalu diledek si tompel oleh teman-teman. Saya sendiri tidak bisa membalas, sebab saya memang memiliki tompel,” katanya.
Semakin kesini, penderitaan Kiki semakin menjadi-jadi. Sebab tidak hanya teman dan tetangga yang memanggilnya si tompel, tapi Kuple (4) nama samaran anak, dan Jeni (30), nama samaran istri Kiki, ikut-ikutan memanggilnya si tompel. “Paling sakit hati ketika anak panggil saya si tompel. Saya kan ayahnya, kok berani meledek saya dengan sebutan yang paling saya tidak suka,” ujarnya.
Tidak hanya tompel, namun tinggi badan Kiki pun bermasalah. Ia tidak setinggi pria-pria seusianya, meskipun dia tidak cebol seperti Ucok Baba atau Daus Mini. “Saya memang pendek, tapi anak-anakku tinggi. Sebab ibunya anak-anak kan tinggi,” katanya.
Saat ini, tinggi badan Kiki sama dengan anak-anaknya. Ini pun cukup mengganggu, sebab anak-anaknya yang semuanya laki-laki, jadi berani melawan atau meledek ayahnya sendiri. “Misalnya mereka ingin jajan, tapi tidak saya kasih uang. Anak saya pergi sambil menggerutu, dasar tompel pelit, begitu. Beuh, menyiksa hati kalau sudah dibegitukan,” tuturnya.
Jeni juga kerap melakukan hal sama. Misalnya ketika Kiki terlalu lama belanja makanan ke minimarket, Jeni sering menegurnya dengan sebutan tompel. “Misalnya, lama amat sih tompel, atau dasar tompel lelet. Seperti itulah,” jelasnya.
Dengan Jeni, sebutan tompel memang sering diterima Kiki sejak masa pacaran. Jeni yang tidak lain adalah teman sekolah Kiki, merasa bebas untuk memanggil suaminya dengan nama julukan.
Tapi ketika Kuple mulai ikut-ikutan menyebut si tompel, hati Kiki sedikit demi sedikit mulai tersayat. Hingga pada akhirnya, Kiki melayangkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama. “Lama-lama saya jadi tersinggung, kok anak sama istri tidak menghormati perasaan saya,” akunya.
Pemilik toko kelontongan di Serang ini, telah bertahan lama menerima sebutan tompel dari anak dan istri. Siksaan batin lain yang ia terima ketika mengantarkan Kuple sekolah PAUD. “Kalau saya antar anak sekolah PAUD, sampai di sekolah teman-teman anak saya panggil bapak tompel,” katanya.
Kadang kala ketika Kiki tidak lagi kuat menerima umpatan orang, ia menyendiri di dalam kamar dan menangis. Ia merasa tidak ada lagi tempat di dunia di mana harga dirinya terpelihara. “Kalau saya udah merasa sedih, saya seperti orang yang paling tersakiti sedunia,” tuturnya.
Sempat suatu ketika, Kiki marah kepada Kuple karena meledeknya dengan sebutan tompel. Kiki pun menampar anaknya karena dinilai terlalu melunjak. Namun Jeni turun membela Kuple dan mengatakan jika umpatannya tidak berlebihan. Sebab hal itu sesuai kenyataan, mengingat Kiki memang memiliki tompel.
Kesal dengan semua ejekan-ejekan, Kiki akhirnya mengambil sebuah keputusan. Ia meminta baik-baik kepada Jeni untuk berpisah. Awalnya Jeni sempat menolak, namun pada akhirnya sang istri menerima keputusan Kiki. Mereka pun sempat pisah rumah hingga pada akhirnya Kiki meresmikan perpisahan mereka dengan mendatangi Pengadilan Agama. “Awalnya saya minta kami untuk berpisah rumah, saya bilang ingin tahu rasanya kalau sendirian tanpa anak istri yang sering mengejek. Setelah saya sendirian, ternyata saya merasa nyaman. Karena itu saya ingin cerai betulan, makanya saya datang ke kantor Pengadilan Agama,” ujarnya. (Sigit/Radar Banten)









