Sering kali terdengar istilah kesabaran itu ada batasnya, sementara sabar tanpa batas itu klise atau omong kosong. Namun tidak dengan Marni (28), nama samaran, ia memilih hidup dengan kesabaran tanpa batas agar bisa menjadi istri Duyeh (31) yang baik.
Menjadi seorang Marni patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, dia bisa menghadapi karakter suaminya yang agak-agak gimana gitu dengan teman perempuannya. “Saya ini memang begini, cara bergaul saya dengan perempuan itu bebas. Istri enggak keberatan kok dengan karakter saya. Sebab sejak awal sudah saya jelaskan, jadi tidak kaget,” kata Duyeh.
Karyawan salah satu perusahaan besar di Serang ini, mengaku, cukup beruntung memiliki Marni yang super sabar sebagai istri. Karena sifat Marni menyeimbangkan kebiasaannya dengan perempuan. “Saya seperti itu hanya sekadar bercanda, tidak sampai serius. Terpenting itu bagaimana saya bersikap ketika di rumah. Menjadi ayah yang baik bagi anak-anak, ajarkan mereka agama, serta memenuhi semua kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Hmmm, jadi penasaran nih. Memang seperti apa sih Duyeh itu dengan teman perempuannya. Ia kemudian memperlihatkan foto-fotonya bersama sejumlah teman perempuan. Dalam album foto salah satu media sosial, tampak Duyeh memeluk banyak perempuan, mereka cantik-cantik dan terkesan mesra dengan Duyeh, oh my God. “Nih foto-foto saya. Nah, yang ini mantan pacar. Marni tahu ini mantan, tapi tidak pernah jadi masalah,” aku Duyeh, wow.
Kata Duyeh, foto-foto itu diketahui semua oleh Marni. Bahkan, Marni yang tidak memiliki akun media sosial juga menggunakan akun medos Duyeh untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. “Istri tahu semua foto-foto itu, kan dia pakai akun saya juga. Jadi saya tidak pernah merahasiakan saya dengan si ini dan si itu. Istri santai saja,” ujarnya.
Yah, gondok-gondok dikit mah ada aja kali Om. Namanya juga wanita, punya perasaan. Tapi semuanya tertutup oleh prinsip Marni yang memilih sabar dengan karakter suaminya. Jempol lagi deh buat Marni, salut. “Saya memang bersyukur punya istri penyabar. Tidak semua suami punya istri seperti saya,” jelasnya.
Betul itu Om, kalau orang lain pasti sudah benjut-benjut kena amuk istri. Pengakuan Duyeh, istri seperti itu bukan karena didikannya setelah menjadi suami. Karakter Marni sebagai istri penyabar terbentuk karena sejarah mereka sebelum berpadu sebagai pasangan suami istri. Duyeh kemudian menceritakan bagaimana awal mula Duyeh bertemu dengan Marni.
Itu terjadi pada 2004, ketika Duyeh sedang ikut pelatihan kerja di Bali. Kala itu Duyeh masih kuliah di sebuah universitas perhotelah di Bandung. Tanpa disengaja, Duyeh bertemu dengan Marni yang juga satu kampus dengannya. Ternyata Marni juga mendapatkan tugas pelatihan kerja di Bali. “Saya dan Marni satu kampus, tapi saya baru kenal dia waktu di Bali. Katanya sih, Marni sudah lama kenal saya. Kalau saya enggak terlalu kenal,” ujarnya.
Waktu itu, Marni dengan teman perempuannya menjadi dekat dengan Duyeh. Duyeh sendiri sebenarnya agak tertarik dengan perempuan yang satunya lagi, namun Marni jauh lebih agresif melakukan pendekatan dengan Duyeh. “Waktu itu, Marni bilang roll film di kameranya sudah habis. Dia pinjam kamera saya, setelah itu saya pergi kemana-mana dengan Marni,” tuturnya.
Entah diketahui Marni atau tidak, status Duyeh sebenarnya sudah bertunangan dengan seseorang. Duyeh dan tunangannya sudah berniat untuk menikah sepulang Duyeh dari Bali. Namun entah bagaimana, pertunangan itu batal. Ketika Duyeh pulang, sang perempuan tidak ingin melanjutkan pertunangannya lagi. “Waktu itu, tunangan saya pergi. Jadi kami batal menikah,” jelasnya.
Hal ini membuat kedekatan Marni dan Duyeh semakin lekat. Namun wanita yang dekat dengan Duyeh bukan hanya Marni, tapi ada beberapa wanita lain, sebut saja Siti, Sarboah, Wati, juga Maesaroh. “Marni tahu saya dekat dengan banyak perempuan yang lain juga tahu saya dengan Marni seperti apa. Jadi sampai suatu waktu saya sakit, mereka seperti berlomba untuk bisa dekat saya. Tapi di antara semua perempuan yang dekat, hanya Marni yang menginap di rumah sakit menjaga saya,” tuturnya.
Pada 2007, Marni mengatakan ingin menikah dengan Duyeh. Kala itu, Duyeh mengingatkan Marni tentang karakternya yang mudah dekat dengan perempuan. Jawab Marni, ia tidak keberatan asal bisa menikah dengan Duyeh. Keyakinan Marni membuat Duyeh luluh, ia lalu menerima pinangan Marni.
Inilah yang melatarbelakangi bagaimana Marni bisa bersabar dengan Duyeh. Jadi kesabaran Marni tidak serta merta datang begitu saya, melainkan karena sejarah perjalanan cintahnya dengan Duyeh. “Kalau saya dekat dengan perempuan, Marni akan selalu memaklumi. Sebab sudah saya jelaskan sejak awal, saya memang begini,” aku Duyeh. (Sigit/Radar Banten)








