Siapakah yang bakal serius maju menjadi calon Gubernur Banten 2017? Pertanyaan ini mungkin banyak muncul di benak mayoritas masyarakat Banten yang memang mengikuti dinamika perkembangan menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2017.
Sejak awal tahun ini, ibarat kendaraan, pilgub masih sebatas mesin yang sedang dipanaskan di pagi hari. Meski beberapa bursa calon gubernur bermunculan, tetapi mereka masih seperti ‘malu-malu kucing’. Berbagai faktor menyertai sikap ‘malu-malu kucing ini’. Ada yang memang secara hasrat politik pribadi berkeinginan, tapi kendaraan partai yang menaunginya belum merestui. Atau, ada juga yang bersikeras terus maju meski ada bakal calon lain di internal partai juga ngotot ingin meramaikan bursa pilgub.
Dengan menyisakan waktu enam bulan lagi, tentunya waktu yang tidak panjang untuk menyusun kekuatan dan mengatur strategi memenangkan pilgub. Sangat wajar jika saat ini semua partai politik dan figur-figur yang akan bertarung terus melakukan lobi-lobi politik. Membangun komunikasi, membedah potensi, dan menyatukan kekuatan untuk menang.
Berbagai kemungkinan dipetakan. Termasuk menggabungkan kekuatan antarpartai dengan partai dan figur dengan figur. Karena jika salah perhitungan, akan menjauhkan dari kemenangan.
Informasi yang dihimpun Radar Banten hingga kemarin, belum ada satu pun partai politik yang sepakat berkoalisi dan mengusung pasangan calon yang sama. Kalaupun sudah ada yang membangun kesepakatan dan koalisi, hanya sebatas elite partai di tingkat provinsi, itu pun tanpa calon yang akan diusung. Seperti yang dilakukan PKS dan Gerindra dengan membuat partai poros tengah. Belakangan, dua partai tersebut menggaet empat partai lain, yaitu PAN, Hanura, PPP, dan PKB. Namun lagi-lagi, langkah ini tanpa calon yang diusung. Yang muncul hanyalah figur-figur yang kemungkinan akan disodorkan jika koalisi itu benar-benar terwujud. Tentu jika koalisi itu juga diamini oleh pengurus pusat partai-partai itu. Jika pusat tidak sejalan maka koalisi yang sudah dibangun di daerah akan sia-sia.
Terlepas direstui pusat atau tidak, saat ini upaya-upaya itu sedang berjalan cepat. Bukan hanya pengurus partai tingkat provinsi yang melobi elite partai di pusat, juga para figur yang selama ini beredar di masyarakat sebagai bakal calon gubernur. Mereka adalah, Rano Karno, Andika Hazrumy, Wahidin Halim, dan Mulyadi Jayabaya. Ada juga para figur yang berkeinginan maju sebagai bakal calon wakil gubernur seperti Tb Haerul Jaman, Anton Apriyantono, Budi Heryadi, Ahmad Taufik Nuriman, Wawan Iriawan, dan M Mardiono.
Dari nama-nama yang muncul itu, masing-masing partai politik sedang menghitung dan melakukan kajian-kajian. Siapa dengan siapa dipasangkan untuk bisa memenangkan pertarungan.
SKENARIO PASANGAN
Informasi yang berkembang, ada tiga skenario yang sedang dipertimbangkan elite partai dan figur yang akan bertarung. Skenario pertama adalah munculnya tiga pasang calon. Jika tiga pasang ini muncul untuk bertarung, tokoh-tokoh yang akan tampil adalah Rano Karno yang diusung PDI Perjuangan, Andika Hazrumy diusung Partai Golkar, dan Wahidin Halim dari Partai Demokrat. Jika tiga pasangan terlalu berat untuk memeroleh kemenangan maka skenario berikutnya adalah hanya ada dua pasangan calon. Alternatif kedua inilah yang sekarang sedang diseriusi oleh masing-masing partai dan tokoh-tokoh yang akan maju.
Skenario kedua itu juga bukan harga mati. Ada skenario terakhir yang sudah disiapkan oleh partai yaitu calon tunggal. Bahkan, kabar yang sudah berhembus kencang, calon tunggal itu adalah pasangan Rano Karno-Andika Hazrumy. Mereka akan diusung koalisi besar. Hanya pasangan calon independen yang kemungkinan menjadi penantang.
Dari tiga nama calon gubernur yang kencang mencuat ini, nama Rano Karno, Andika Hazrumy dan Wahidin Halim memang dinilai publik dianggap mumpuni baik secara pengalaman memimpin birokrasi, kekuatan jaringan, finansial, maupun tingginya elektabilitas dan popularitas mereka. Sebagai contoh, hasil survei Indo Barometer yang dirilis 1 Juni lalu menunjukkan jika ketiganya cukup memiliki rating baik dalam hal elektabilitas maupun popularitas. Rano Karno menduduki peringkat teratas dengan elektabilitas 34,5 persen dan popularitas 99,9 persen. Wahidin Halim berada di urutan kedua membayangi Rano Karno dengan survei elektabilitas sebesar 18,9 persen dan 57 persen untuk popularitas. Sementara Andika Hazrumy berada di urutan ketiga. Untuk survei elektabilitas Andika mendapat 4,4 persen dan popularitas 47,8 persen.
Nama Rano Karno sebagai petahana karena menjabat Gubernur Banten, tentunya paling banyak perhatian publik. Modal pengalaman memimpin Pemprov Banten dan juga pesona keartisannya masih melekat, membuat pemeran Si Doel Anak Sekolahan ini banyak diperhitungkan. Langkahnya bak seorang menteri dalam bidak catur, yang memang ditunggu-tunggu. Di awal-awal, tepatnya pertengahan 2015, Rano memang belum secara terang-terangan menyatakan untuk maju kembali bertarung di pilgub. Ketika itu ia mengaku masih fokus bekerja membenahi Pemprov Banten, yang masih mendapat opini disclaimer dalam penatakelolaan keuangan. Namun belakangan, di tengah makin hangatnya konstelasi politik baik dari para bakal calon yang bermunculan atau partai politik membuat kepercayaan diri Rano mulai terbangun.
Pada satu kesempatan usai rapat paripurna di DPRD Banten pada awal 2016, Rano menyatakan siap kembali maju. Ungkapannya ini mengundang pertanyaan kembali, apakah Rano sudah mengantongi restu DPP PDI Perjuangan dalam hal ini Megawati Soekarnoputeri sebagai ketua umum, atau baru sebatas sikap pribadi. Pertanyaan ini terjawab, ketika Megawati hadir pada Peringatan Hari Bumi di Taman Hutan Rakyat (Tahura) di Kabupatan Pandeglang pada 24 April 2016. Kala itu, kepada wartawan, Megawati mengisyaratkan sudah merestui Rano Karno untuk maju kembali pada perhelatan Pilgub Banten 2017.
CALON TUNGGAL GOLKAR
Di Partai Golkar, sejumlah nama bakal calon gubernur dari kader internal paling banyak bermunculan seperti anggota DPR RI Andika Hazrumy dan Tantowi Yahya, serta Walikota Serang Tb Haerul Jaman. Namun belakangan, yang tampak terlihat serius untuk maju dalam bursa pilgub yaitu Andika Hazrumy dan Tb Haerul Jaman. Meski masih terikat hubungan saudara dan dinaungi partai yang sama, tapi urusan sikap politik keduanya berlawanan. Andika yang cukup serius melakukan penjajakan ke berbagai parpol dan masyarakat Banten, percaya diri untuk bisa duduk di kursi Banten 1. Sementara Jaman, menginginkan untuk bisa bersanding dengan sang petahana Rano Karno. Dalam berbagai kesempatan, Jaman terlihat akrab mendampingi Rano, termasuk ketika Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri datang ke Pandeglang pada puncak peringatan Hari Bumi.
Keseriusan keduanya untuk maju terlihat lantaran beberapa partai politik yang membuka penjaringan bakal calon gubernur/wakil gubernur dibuka. Andika tercatat sudah mengikuti penjaringan di PDI Perjuangan, PAN, Demokrat, NasDem, Hanura, dan PPP. Jaman pun demikian. Penjaringan yang diikutinya yaitu PDI Perjuangan, PAN, Hanura, dan PPP.
Meski belum mumpuni dalam urusan mengelola birokrasi, tapi nama Andika Hazrumy di masyarakat cukup dikenal lantaran merupakan anak mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Hasil survei Indo Barometer yang dirilis awal Juni menyebutkan, popularitas Andika di angka 47,8 persen. Sikap Andika yang humble atau rendah hati mambuat politisi muda Golkar yang duduk di Komisi III DPR RI menjadi buah bibir dan dianggap kandidat paling kuat melawan petahana. Terlebih, dukungan DPD Golkar Banten pun kini sudah bulat mengarah ke Andika, menyusul awal Juni lalu hasil rapat Pleno Diperluas Partai Golkar Banten menetapkan Andika sebagai calon gubernur satu-satunya yang direkomendasikan DPD ke DPP Golkar.
Keputusan DPD Golkar Banten tersebut praktis menutup peluang anggota Komisi I DPR RI Tantowi Yahya, Walikota Serang Tb Haerul Jaman dan pengurus Golkar Kabupaten Tangerang Madrowi untuk menjadi alternatif bakal cagub yang akan diusung Golkar. Meskipun keputusan akhir ada di DPP, rekomendasi DPD menjadi harga mati bagi kader-kader partai berlambang pohon beringin ini di Banten.
Publik patut menunggu, apakah rekomendasi DPD itu diterima tanpa syarat. Atau DPP memutuskan Andika cukup sebagai bakal calon wakil gubernur, mengingat usianya masih muda dan belum memiliki pengalaman sebagai kepala daerah ditingkat kabupaten kota.
Namun yang pasti, pengalaman Golkar memenangkan dua Pilgub Banten yakni Pilgub 2006 dan 2011 membuat Golkar percaya diri mengusung dan memenangkan Andika sebagai calon gubernur. Bahkan berkaca pada hasil pilkada serentak 2015, kader-kader Golkar kembali berjaya di empat daerah yang menggelar pilkada di Banten.
Sedangkan Wahidin Halim, sosoknya tak bisa dipisahkan dari Partai Demokrat besutan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Meskipun DPD Partai Demokrat Provinsi Banten belum resmi menetapkan Wahidin Halim (WH) sebagai calon gubernur yang akan diusung Demokrat pada Pilgub Banten 2017, mantan Walikota Tangerang ini gencar menarik simpati warga tidak hanya di wilayah Tangerang Raya namun juga mulai ke Kota Serang.
Wahidin yang saat ini sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini merupakan mantan calon gubernur pada Pilgub Banten 2011 lalu dari Demokrat. Sadar popularitasnya masih berada jauh di bawah petahana, Wahidin rajin turun menemui masyarakat di wilayah Banten Selatan. Awal Mei lalu, WH menggelar jalan sehat bersama warga di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak.
Yang terbaru, WH yang dulu merupakan lawan Atut-Rano dalam Pilgub 2011 mengaku telah bersilaturahim dengan Ratu Atut awal Juni ini. Pertemuan itu disinyalir sebagai jalan baru yang dipilih WH untuk mendapat dukungan dari keluarga Atut. Meskipun secara gamblang mengakui bila dirinya membahas soal Pilgub 2017 dengan Atut, namun kunjungan WH tersebut dinilai sebagai strategi politik untuk mendekati Andika agar bisa berdampingan dengannya melawan petahana Rano Karno. (Aditya R/Radar Banten)








