Berpegang teguh pada tradisi leluhur, dipercaya membuat kehidupan masyarakat adat Cisungsang sejahtera. Jumat (9/9) lalu, Radar Banten berkesempatan melihat lebih dekat kehidupan mereka. Berikut laporannya.
RUMAH MEWAH BERDERET DENGAN PARABOLA
LEBAK- Nama Desa Cisungsang sebagai bagian Kasepuhan Banten Kidul, terdengar tak asing bagi masyarakat Banten. Mendiami kaki Gunung Halimun-Salak, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, mereka tidak menutup diri dari dunia luar. Dari hasil bertani, mereka mampu menjamu ribuan pendatang yang biasa membanjiri acara ritual seren taun sebagai pesta panen raya setiap tahun.
Masyarakat Cisungsang juga adaptif terhadap perkembangan zaman. Buktinya, beragam kecanggihan teknologi seperti televisi dengan parabola dan telepon seluler digunakan untuk mempermudah kehidupan mereka. Di desa yang kental dengan adat-istiadatnya ini, secara kasat mata dijumpai berderet puluhan rumah mewah.
Bentuk bangunan rumahnya permanen bergaya minimalis modern. Juga, berlantai dua dengan tiang joglo dari beton. Lantainya sudah berbahan keramik. Mengilat! Halamannya berpagar besi seperti hunian di kompleks perumahan elite perkotaan. Di beberapa rumah juga tampak mobil cukup mewah terparkir di halaman yang berhias taman minimalis.
Berdiri di kawasan bertebing membuat rumah terlihat cukup eksotis. Terlebih, udara di Desa Cisungsang masih terasa sejuk dengan dedaunan hijau yang menjadi wajah panorama desa yang memiliki luas sekira 1.600 hektare.
Pemandangan sejumlah rumah mewah juga terlihat di Desa Cisitu, yang masih bagian dari Adat Kasepuhan Cisungsang. Jarak dari Desa Cisungsang sekira dua kilometer. Berada di balik perbukitan yang tertutup oleh rimbunnya aneka pepohonan menjulang tinggi. Namun, akses jalan menuju desa tersebut sudah cukup baik.
Jalan sudah berlapis aspal dengan lebar sekira tiga meter yang memungkinkan dilalui motor dan mobil. Berada di balik bukit, Cisitu merupakan desa terakhir di Kecamatan Cibeber yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional. Panoramanya pun tak kalah elok dengan Cisungsang. Di antara medan jalan yang mendaki dan turunan, Desa Cisitu dan Desa Cisungsang hanya dibatasi sungai kecil berbatu dengan aliran sungai yang sangat jernih. Dari tepi sungai, hamparan padi pada lahan sawah yang berbentuk terasering terpampang memperlihatkan kesuburan desa.
Informasi yang dihimpun, bangunan rumah mewah dan rumah permanen lain mulai ada sejak era Kepemimpinan Adat Kasepuhan Cisungsang, yakni Abah Usep Suyatma. Ketua adat yang memimpin sejak 1988 silam ini memberi keleluasaan masyarakatnya untuk membangun rumah layaknya hunian di perkotaan. “Abah tidak mengharuskan rumahnya harus berbentuk panggung. Warga diberi kebebasan sesuai kemampuan. Tapi untuk yang di sekitar rumah Abah tidak diperkenankan,” kata Erwan Hermawan, pegawai Adat Kasepuhan Cisungsang yang mendampingi Radar Banten selama perjalanan.
Menurutnya, model hunian asli masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul berbentuk rumah panggung. Baik Kasepuhan yang berdiam di Cisungsang, Ciptagelar, Cicarucup, Bayah, Citorek, dan kasepuhan lain. Modelnya, seperti kediaman Abah Usep yang juga dijadikan sebagai pusat kegiatan Adat Kasepuhan Cisungsang. “Kalau Abah mencontohkannya begini (rumah panggung-red),” ujar pria yang akrab disapa Kang Ewang ini.
Lokasi rumah Abah Usep tepat berdiri di pintu masuk menuju Desa Cisungsang. Rumah panggung itu terbuat dari bilik bambu. Alas lantai pada ruang utamanya dari lempengan kayu. Dan hanya bagian dapur yang masih beralas bambu. Sementara, atapnya menggunakan ijuk dari daun aren berwarna hitam pekat.
Menjadi pusat seremonial adat, rumah Abah Usep sangat rapi. Dilengkapi dengan adeng sebagai panggung utama setiap ritual adat. Di samping kanannya berdiri sebuah lumbung (leuit) yang dipergunakan sebagai tempat penyimpanan padi. Dari rumah panggung yang di gerbang utamanya terpampang patung harimau ini, perjalanan menggunakan kendaraan roda dua dimulai pagi itu.
Melewati jalan mendaki, panorama hijau tersaji sejauh mata memandang. Kesejukan pagi pun semakin terasa bersama kicauan burung pada pepohonan hijau yang berdiri di antara tebing. Menurut Sekretaris Adat Kasepuhan Cisungsang Hanriana Hatra Wijaya, kebebasan bagi warga membangun rumah permanen tidak serta merta mengubah tradisi masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang. Itu semua sebagai bagian Kasepuhan Cisungsang menerima perkembangan zaman.
“Abah berpesan zaman telah berubah dan kita tak bisa menghindari. Tapi ada tradisi yang diajarkan leluhur tetap diajarkan dan dijalankan. Bukan semata-mata hanya sekadar fisik, tetapi tertanam di hati,” katanya.
Pria yang sehari-sehari mengajar bahasa Inggris pada salah satu SMP di Kabupaten Lebak ini mengatakan, penggunaan teknologi juga dibebaskan. “Globalisasi itu tidak bisa dihindarkan, dan itu bisa kami gunakan selama mempermudah komunikasi. Kami tidak menutup diri, dan itu kami anggap sebagai strategi untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan tradisi kami. Khususnya di kalangan anak muda,” kata pria yang akrab disapa Abah Henri.
Kasepuhan Cisungsang, lanjutnya, juga memperbolehkan pemudanya merantau ke luar kota. Baik untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan. “Cita-cita boleh dikejar sampai kutub utara sekalipun. Tapi di hati kami tetap ada Cisungsang. Karenanya setiap acara adat seperti seren taun atau Mulud (peringatan Maulid Nabi-red), mereka wajib pulang kampung,” ujarnya bangga.
Secara keseluruhan ada sekira 60 persen rumah warga yang sudah mulai dibangun secara permanen. Baik rumah yang berlantai dua atau masih dikombinasikan dengan semi rumah panggung. “Kalau secara kasat mata kurang lebih sekira 60 persen lebih sudah dibangun permanen. Itu pun karena memang Abah membolehkan,” kata Edi Sunardi, Jaro atau Kepala Desa Cisungsang.
Menurutnya, masyarakat Desa Cisungsang mampu membangun rumah mewah karena tingkat perekonomiannya yang memang berkecukupan. Masyarakat sudah tidak pusing jika hanya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari. Kewajiban menjadi petani dan memiliki lumbung padi itulah yang dinilai Edi sebagai kunci sukses kesejahteraan masyarakat Cisungsang. “Orang Cisungsang kalau cuma tidur saja tidak akan kelaparan. Satu-satunya pengeluaran mereka cuma biaya sekolah anaknya saja,” ujar Edi.
Selain itu, pada setiap pekarangan rumah warga juga biasa ditanami berbagai sayuran untuk kebutuhan sehari-hari. Termasuk kolam ikan untuk lauk pauknya. Kata Edi, di sela-sela menunggu hasil panen, masyarakat juga kerap melakukan pekerjaan sampingan sebagai penambang emas, berdagang, dan pekerjaan lain. “Dari bertani saja tidak ada yang kurang, apalagi ditambah kerja sampingan lain,” katanya.
RUMAH TAHAN GEMPA
Masyarakat Desa Kasepuhan Banten Kidul yang bertahan dengan model rumah panggung bukan berarti secara ekonomi di bawah orang-orang yang memiliki rumah permanen. Sebab, biaya membangun rumah panggung justru lebih tinggi. Biaya rumah panggung bisa dua kali lipat lebih besar dibandingkan rumah tembok.
Selain itu, yang bersangkutan harus bersabar. Bahan-bahan rumah panggung yang khusus ini memerlukan waktu agar siap berdiri menjadi rumah penuh. Apalagi, bahan-bahan seperti bambu, ijuk, dan lempengan kayunya sudah cukup sulit didapat. “Memang asli dari leluhur bentuknya rumah panggung. Sekarang sudah banyak yang rumah permanen. Kami tidak masalah, itu disesuaikan saja dengan kemampuan,” ujar Ki Edis, Ketua Adat Kasepuhan Cisitu saat ditemui di kediamannya di Desa Cisitu.
Model rumah Ki Edis tidak jauh berbeda dengan rumah Abah Usep. Meski tidak seluas Abah Usep, secara model identik. Termasuk halaman rumahnya yang dilengkapi adeng dan lumbung pagi. Hanya saja, untuk sampai ke halaman rumah Ki Edis, perjalanan tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat. Rumahnya di ujung Desa Cisitu harus melewati gang-gang sempit yang hanya bisa dilalui jalan kaki atau kendaraan roda dua.
Menurut Ki Edis, untuk membuat adeng seukuran 5×6 meter membutuhkan biaya sekira Rp12 juta. Itu pun baru untuk biaya atap. “Ijuknya saja segitu, apalagi kalau dengan bilik dan lempengannya. Tapi karena Abah (Abah Usep-red) tidak membolehkan kasepuhan membangun rumah permanen, ya kami jalani,” ujarnya tanpa memerinci jumlah detailnya.
Selain modelnya yang memiliki nilai seni tinggi, rumah panggung memiliki gaya arsitektur yang hebat. Seperti rumah-rumah di Jepang, rumah panggung masyarakat Kesepuhan Banten Kidul juga diklaim tahan gempa. Bambu sebagai bilik dipilih sebagai bahan utamanya karena sifatnya yang elastis. Termasuk tali untuk mengikat ruas-ruas sambungan rumah juga dipilih dari bambu khusus tali. Untuk bilik biasanya menggunakan bambu jenis bayan. Demikian juga kayu yang dijadikan alas bukan kayu sembarangan. (Supriyono-Wahyu S/Radar Banten)









