MENJALANI sebuah rumah tangga harmonis itu tidaklah semudah yang dipikirkan, tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Banyak rintangan dan ujian yang harus dihadapi. Jika tidak ada kesabaran, komitmen, dan pondasi yang kuat pada awal menikah untuk menyelesaikan ujian dalam kehidupan bersama-sama, akan hancur segala-galanya.
Itu dialami Fatimah (45), bukan nama sebenarnya. Dalam kehidupan sehari-sehari bersama keluarga di hiruk-pikuk kota, Fatimah yang memasuki usia senja harus menghadapi masalah berat. Suami Fatimah, Emul, bukan nama sebenarnya, meninggal dunia terkena penyakit jantung. Semasa hidupnya, Emul merupakan perokok berat. Fatimah harus ikhlas pasangan tersayangnya pergi untuk selama-lamanya. Kepergian Emul yang berusia 53 tahun itu, membuat Fatimah harus mengurus sembilan anak yang masih kecil-kecil, ditambah saat ini Fatimah tengah hamil delapan bulan.
Semasa hidup, Emul sudah berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang bapak dengan menyekolahkan anak-anaknya dari hasil menarik bajaj. Tapi, anak-anaknya selalu ingin bermain sehingga akhirnya berhenti sekolah.
Setelah kematian suaminya, Fatimah gelisah dan bingung. Siapa yang akan diandalkan untuk membiayai keperluan sehari-hari mereka?. Sedangkan Ia harus mengurusi sembilan anak di rumah tingkat dua yang terbuat dari kayu.
Dari sembilan anak, hanya dua yang sudah menikah, yaitu anak kedua dan ketiga. Anak pertama, kegiatannya nongkrong dengan kerabatnya hingga malam bahkan sampai pagi. Anak perempuan kedua dan ketiga sudah menikah, tapi kelakuannya seperti anak-anak muda dan tidak ada bedanya dengan anak pertama. Suatu hari anak perempuan yang ketiga tertangkap tangan oleh polisi yang menyamar sebagai preman karena memakai sabu-sabu. Alhasil harus menerima hukuman penjara selama lima tahun.
Fatimah dibuat kelimpungan. Tak jarang wanita tua itu berlaku kasar terhadap anak-anaknya. Padahal, peran ibu dalam rumah tangga sangat penting dalam memberikan contoh bagi anak-anaknya. Jika kelakuan seorang ibu kasar, maka dipastikan sang anak akan melakukan hal serupa.
“Bu Fatimah selalu bertengkar dengan anak-anaknya. Ia juga merokok di depan mereka. Bagaimana mungkin sang anak akan berlaku baik, sedangkan orangtua yang seharusnya jadi panutan, malah seperti itu. Sehingga setiap hari para tetangga merasa terganggu mendengarkan ucapan Bu Fatimah yang tidak sopan itu,” tutur Fauzi, bukan nama sebenarnya, kerabat Fatimah.
Sebulan kemudian, pada tengah malam, Fatimah mulas-mulas dan siap melahirkan bayi. Setelah melahirkan, Fatimah justru mempunyai inisiatif untuk menjual anak yang baru dilahirkannya kepada yang membutuhkan, lalu uangnya akan digunakan untuk keperluan keluarganya dan membayar biaya lahiran. Sembilan anak Fatimah tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi mereka tidak setuju, tapi di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan setelah kepergian sang bapak tidak bisa dielakkan lagi. Biaya hidup terus menumpuk, sementara pemasukan untuk belanja setiap hari tidak ada.
Kelakukan Fatimah itu membuat para tetangga merasa heran. Karena Fatimah melahirkan bayi tapi tidak ada wujudnya. Lagipula tidak ada kabar apakah sang bayi selamat atau tidak.
Setelah muncul banyak pertanyaan dari para tetangga kepada keluarga Fatimah, mereka hanya menjawab bayi itu tidak selamat. Padahal kenyataannya, sang bayi dijual kepada orang lain untuk menutupi keperluan sehari-hari. (Zaenal-Zetizen/Radar Banten)









