Nasib Perajin Emping di Pandeglang

    Sulit Mendapatkan Melinjo Akibat Alih Fungsi Lahan

    Emping merupakan makanan yang banyak disukai orang. Selain gurih, makanan dari melinjo itu juga mudah didapatkan di pasaran. Lalu, bagaimana dengan nasib perajin emping?

    ADIB FAHRI – Pandeglang

    Rabu (31/7) siang, enam ibu-ibu rumah tangga di Kampung Cijeruk, Desa Kadomas, Kecamatan Pandeglang, tampak sibuk memukul melinjo yang disangrai untuk dijadikan emping. Sambil memegang kayu yang dibungkus plastik, melinjo yang masih panas dan kulitnya sudah terkelupas itu diletakkan di sebuah wadah dari ubin. Lalu, dipukul hingga tipis hingga menjadi emping. Satu keping emping berasal dari lima biji melinjo.

    Di ruangan semi terbuka berukuran enam kali tiga meter itu, ibu-ibu rumah tangga itu membuat emping untuk dipasarkan. Panas dan abu dari tungku api yang menyala tak membuat semangat mereka luntur. Sambil berbincang dan bersenda gurau, mereka terus menyelesaikan pekerjaan untuk membantu suami mereka dalam menafkahi keluarga. Ada juga seorang ibu yang membawa serta anak lelakinya yang berusia tiga tahun ke tempat kerja.

    Di luar tempat kerja, panas terik seolah membantu memudahkan pekerjaan mereka. Soalnya, emping yang sudah dibuat itu harus dijemur terlebih dulu selama tiga sampai lima jam agar kering dan bisa dikonsumsi. Lima tumpukan jemuran emping yang ada di pekarangan rumah Ibu Ursih (50), seorang perajin emping, terlihat cukup menggiurkan untuk disantap.

    Radar Banten yang singgah di tempat itu disambut dengan ramah oleh para pembuat emping. Sambil menuangkan teh manis panas, Ibu Ursih menawarkan untuk mencoba hasil emping yang dibuatnya. Selain gurih, kering, dan renyah, emping yang diproduksinya juga menghasilkan cita rasa yang khas.

    Sambil menikmati secangkir teh manis panas, Ursih dengan senang hati menceritakan lika-liku persoalan selama 30 tahun menggeluti usaha itu. Hal paling menarik dari persoalan yang dihadapi ibu tiga anak itu adalah terbatasnya bahan emping dan kurangnya perhatian pemerintah daerah bagi para pengusaha rumahan.

    “Bahannya kadang susah didapat, harus nyari keluar daerah,” katanya.

    Ibu paruh baya itu harus memutar otak agar stok bahan baku pembuatan emping tetap tersedia. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, usaha yang dilakoninya juga menjadi tempat bergantung enam orang tetangganya. Meski harus mencari ke luar daerah, hal tersebut tetap dia lakukan agar dapur bisa terus mengepul.

    “Biasanya kita nyari di daerah Rangkasbitung karena di Pandeglang sekarang susah,” keluhnya.

    Dia juga bukannya tidak pernah mengusulkan bantuan modal, tetapi permohonan yang disampaikan itu seolah hanya seperti angin lalu tanpa ada tindak lanjut yang nyata. Padahal, modal yang diberikan itu bisa digunakan untuk memperbesar usaha tradisional yang ia lakoni.

    “Kalau saja ada bantuan modal dari pemerintah, bisa jadi usaha ini maju dan banyak masyarakat yang bisa bekerja di sini,” harapnya.

    Produksi emping yang dihasilkannya dalam satu hari bisa mencapai lebih dari sepuluh kilogram, dengan perbandingan dua kilo melinjo menjadi satu kilogram emping. Dari hasil penjualan itu, dia bisa menafkahi keluarga dan menggaji enam pegawainya. Namun, Ursih enggan menyebutkan besaran untung yang didapatnya dari satu kilogram emping yang terjual.

    “Untungnya adalah cukup untuk sehari-hari dan bisa menutupi kebutuhan lain,” katanya.

    BUAT PERKEBUNAN MELINJO

    Meski dibuat secara tradisional, emping buatan Ursih itu ternyata dipasarkan hingga ke Jakarta dan Bandung. Namun, disaat banyak orderan emping, dia hanya bisa mengelus dada karena kesulitan mendapatkan bahan pokok, yaitu melinjo.

    “Ramai-ramainya yang pesan emping itu menjelang Ramadan sampai setelah Lebaran. Yang tanam melinjonya susah, ada lahan atau kebun tetapi banyak dijadikan perumahan atau dijual dan tidak dikelola lagi oleh pemilik,” katanya.

    Diselingi canda para pegawainya, Ursih mencoba mengenang kejayaan emping yang pernah dia rasakan. Mulai dari kebanjiran orderan hingga kelimpungan mencari orang untuk membantu membawakan hasil olahan melinjo itu untuk diantarkan kepada pemesan.

    “Kalau sekarang sudah enggak seperti itu lagi. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Tetapi, abdi (saya-red) masih berharap pemerintah bisa memberikan bantuan,” katanya.

    Umsiah (35), seorang pekerja emping, sedikit memberikan argumen mengenai sulitnya mendapatkan bahan baku tersebut. Ibu satu anak itu berharap pemerintah bisa mengembangkan perkebunan melinjo agar pengusaha rumahan tidak kesulitan mendapatkan bahan utama pembuatan makanan ringan tersebut.

    “Iya Mas, bantuin ya biar kita enggak susah nyari melinjonya. Kalau dari luar daerah kan harus tambah ongkos,” katanya sambil tersenyum. (*)