Sekda Banten Al Muktabar menyerahkan kenang-kenangan kepada Deputi Bidang Teknologi Agroindutri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan yang disaksikan oleh Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Banten Ahmad Rohili. Foto: Dok. Pemprov Banten

SERANG – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT), North Pacific Marine Science Organization (PICES), dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Banten mengadakan workshop Kaji Terap Teknologi Pengembangan Sistem Pemantauan Mandiri Kualitas Lingkungan Perairan Teluk Banten Berbasis Hydro Color Technology dan Fish GIS untuk Peningkatan Kapasitas Nelayan.

Workshop dan pelatihan pada Selasa (9/7) di aula Bappeda Banten, dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Banten Al Muktabar, Kepala BPPT yang diawakili Deputi Bidang Teknologi Agroindutri dan Bioteknologi (TAB) BPPT Soni Solistia Wirawan, para ahli dari Jepang, Kanada, Amerika Serikat dan Indonesia, serta para peserta dari berbagai daerah, nelayan, petani tambak ikan, LSM dan SKPD serta para stakeholders terkait di Banten.

Untuk kegiatan praktik lapang dilaksakanan di PPN Karangantu dan kunjungan lapangan ke Teluk Banten pada Rabu (10/7).

Pada workshop dan pelatihan ini dikenalkan penggunaan mobile mikroskop Foldscopes dan HAB (Harmful Algae Bloom) yang berbahaya untuk perairan dan sumberdaya ikan.

Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan BPPT Suhendar I Sachoemar menjelaskan, saat ini PICES, the North Pacific Marine Science Organization sedang mengembangkan teknologi pemantauan kondisi lingkungan perairan dan sumberdaya perikanan yaitu teknologi Hydrocolor dan Fish GIS dengan menggunakan smartphone yang aplikasinya dapat di download melalui Play Store.

Technologi Hydrocolor dapat memantau parameter kualitas perairan, seperti Chlorophyll-a, kekeruhan dan material partikel tersuspensi (SPM). Fish GIS merupakan aplikasi yang sangat bermanfaat untuk pemantauan sumberdaya perikanan, illegal fishing, sampah dan red tide atau pasang merah yang mematikan ikan.

“Kedua aplikasi ini sangat bermanfaat untuk membantu pemerintah dan mayarakat untuk mengetahui perubahan lingkungan perairan dan sumberdaya perikanan yang hasil pemantauannya baik secara spasial maupun temporal dapat dimanfaatkan untuk menentukan berbagai kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya perairan dan perikanan khususnya diwilayah pesisir,” kata Suhendar dikutip dari siaran pers.

Menurutnya, hasil workshop dan training ini diharapkan dapat menginspirasi dan memberi semangat baru kepada para stakeholders dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya perikanan, pesisir dan kelautan secara optimal, harmonis, produktif dan berkelanjutan untuk menjamin kesinambungan penyediaan pangan berbasis perikanan, pengembangan minawisata dan ekowisata meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pendapatan daerah dan negara. (aas)