CIWANDAN – Warga RT 06 RW 02 di lingkungan Cilurah, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon mengeluhkan dampak limbah yang dihasilkan dari aktivitas PT Indoferro. Pasalnya, akitivitas produksi perusahaan asal Tiongkok tersebut telah mencemari lingkungan warga dengan debu jenis nikel ore.
Selain mengganggu aktivitas warga, kondisi itu bahkan menyebabkan warga sekitar terjangkit penyakit Infeksi Saluran Pernapasan akut (ISPA).
Marhani (30), salah seorang warga mengungkapkan, pencemaran lingkungan yang sudah terjadi sejak sekitar satu tahun yang lalu itu sudah sempat berulang kali diprotes warga kepada pihak perusahaan. Bahkan warga sempat menggelar unjuk rasa terkait pencemaran lingkungan itu.
“Sebenarnya permintaan kami cukup sederhana. Pindahkan saja material nikel ore yang tertumpuk di area PT Indoferro supaya ditempatkan ke tempat yang lebih aman. Jadi debu tidak mencemari pemukiman warga. Bila tidak, material mikel ore itu ditempatkan di ruang tertutup saja, supaya debunya tidak beterbangan ke pemukiman kami lagi,” ujarnya kepada awak media, Jumat (20/11/2015).
Ia membeberkan, persoalan itu juga sudah dilaporkan kepada pihak pemerintahan setempat, namun hingga saat ini belum ada tindakan apapun terkait permasalahan pencemaran lingkungan itu.
Dia menuturkan, pencemaran yang dihasilkan oleh pabrik steel mill itu sudah sangat menggangu aktivitas warga. Terutama pada saat tiupan angin tengah mengarah ke pemukiman warga. Debu nikel ore itu langsung mengotori rumah warga. “Debu material nikel ore ini juga mengotori makanan. Kalau tidak ditutup rapat, makanan tidak bisa dikonsumsi. Pokoknya kami sudah tidak betah dengan kondisi pencemaran lingkungan akibat debu nikel ore ini,” terangnya.
Senada dikatakan Saihu (35) warga setempat lainnya. Ia mengungkapkan, anaknya mengalami batuk-batuk akibat setiap hari menghirup debu nikel ore tersebut. Apalagi rumah miliknya berada dekat dengan tumpukan material nikel ore tersebut. “Kasihan anak saya setiap hari batuk-batuk. Kami minta pihak perusahaan bertanggungjawab,” tandasnya.
Sementara itu Humas PT Indoferro, Rusli mengatakan, terkait persoalan itu pihaknya sudah melakukan mediasi dengan warga sekitar, dengan melibatkan unsur kelurahan dan kecamatan. Dia menyatakan saat ini hasil mediasi tersebut sudah disampaikan kepada pihak manejemen dan segera ditindaklanjuti.
“Kami masih menunggu dari atasan kami terkait persoalan ini, apakah nanti material nikel ore itu dipindahkan atau ditutup supaya debunya tidak terbang. Saya belum bisa memberikan jawaban pasti karena masih menunggu keputusan atasan,” ujarnya. (Devi Krisna)









