SETIAP anak pasti menginginkan pernikahan dihadiri kedua orangtuanya, namun tidak halnya dengan Ayah Rio, bukan nama sebenarnya. Apa yang terjadi?
Ayah Rio memilih tidak hadir di pernikahan anaknya karena Rio, nama samaran, sudah berbeda keyakinan dengan sang ayah. Ayah dan ibu Rio sudah bercerai sejak Rio masih kanak-kanak.
Kisah ini diceritakan Sari, bukan nama sebenarnya, saudara tiri Rio atau saudara seayah lain ibu. Ayah Sari sudah menikah dua kali. Istri pertama, yakni ibu Rio. Ia sudah dicerai dan sekarang menjadi TKI di negara jiran. Hasil pernikahan ini yakni Rio dan saudaranya tinggal bersama kakek dan nenek Rio di Solo. Sementara istri kedua ayah Rio yakni ibu kandung Sari tinggal di Tangerang bersama Sari dan satu saudara lainnya.
“Dulu Kak Rio sebelum tinggal di Tangerang pernah diajak untuk ikut tinggal bersama keluarga kita di Indramayu dan akan disekolahkan, tapi Kak Rio menolak. Saat itu sang ayah berjanji akan membiayai sekolah Kak Rio. Namun Kak Rio menolak, alasannya saat melihat tempat sekolah di Indramayu pusing, banyak gedung,” curhat Sari memulai cerita.
Saat itu Rio sempat tinggal sebulan bersama ayah dan ibu Sari. Itu terjadi saat Rio kelas 6 SD. Setelah itu Rio dijemput kakek dan neneknya. Mereka mengajak Rio pulang dengan alasan saat sunatan belum dirayakan atau belum hajatan. Ayah Sari mengizinkan kakek dan neneknya membawa Rio pulang ke Solo.
Saat liburan kenaikan kelas, ayah Sari dan Sari pergi ke Solo untuk menjemput Rio dan memastikan Rio siap bersekolah dan tinggal bersama ayahnya di Indramayu. “Dari rumah kakek dan nenek Kak Rio di Solo, kita bertiga mampir dulu ke rumah orangtua ayah di Semarang sebelum kita melanjutkan perjalanan ke Indramayu. Niatnya menginap dulu sehari, namun saat tiba di rumah kakek dan nenek, mereka sedang di sawah. Akhirnya saya dan ayah menyusul. Sepulang saya dan ayah dari sawah menjemput kakek dan nenek, Kak Rio malah kabur. Kemudian ayah langsung mengejar Kak Rio dan ditemukan di stasiun terdekat dari rumah kakek dan nenek,” tukas Sari.
Sejak saat itu Sari dan kakak tirinya sudah tidak pernah berjumpa lagi. Ayah Sari sangat kecewa pada Rio. Ia sudah angkat tangan tidak akan mengurusi Rio. Mungkin bagi Rio ini juga sangat berat untuk meninggalkan kakek dan nenek yang selama ini mengurusnya sejak kecil, kemudian harus meninggalkan teman-temannya yang selama ini selalu bermain bersamanya. Ayah Sari pun tidak memaksakan Rio untuk ikut bersama keluarga mereka dan terserah Rio akan menjadi apa.
Tujuh belas tahun setelah kejadian itu tidak ada kabar tentang Rio. Kemudian pada April 2015 lalu Rio memberi kabar mengejutkan kepada Sari melalui akun Facebook bahwa dia akan menikah pada Mei tahun itu.
“Saya senang mendapat kabar bahwa kakak saya akan menikah, justru saya sangat menunggu-nunggu kabar bahagia ini, dan ingin sekali hadir,” katanya lagi.
Saat sari memberi kabar gembira tersebut pada sang ayah, ternyata ayahnya sudah tahu mengenai kabar tersebut, tapi bukan dari Rio langsung melainkan dari paman Rio. Sebenarnya yang ayah Sari inginkan Rio menyampaikan langsung berita bahagia ini pada sang ayah.
“Ayah bilang, belum tahu akan datang atau tidak pada pernikahan itu karena Kak Rio sendiri belum menelepon ayah,” tutur Sari.
Sari akhirnya memberitahu sang kakak supaya langsung menelepon ayahnya untuk memberi kabar bahagia ini. Saat Rio mengobrol dengan Sari melalui aplikasi BBM, Rio sebenarnya sangat mengharapkan sang ayah hadir di pesta pernikahannya. Kendati Sari sudah bicara dengan sang ayah, Rio sama sekali tidak menghubungi ayahnya. Seperti tidak ada kesingkronan di antara keduanya.
Akhirnya Sari mencari tahu lebih dalam mengapa ayah sangat bimbang untuk hadir ke acara pernikahan Rio. “Saya curiga pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan,” Sari menurunkan nada suaranya.
Sari mengaku, rasa penasarannya lah yang membuat ia menggali informasi lebih dalam. Sari sangat khawatir jika sang ayah benar-benar tidak akan datang. Meskipun Rio hanya kakak tiri, tapi sangat mengharapkan sang ayah memperlakukan Rio seperti Sari. Bagaimanapun juga Rio adalah darah daging sang ayah yang juga butuh kasih sayang, dan menghadiri pesta pernikahan adalah momen sakral dalam hidup seseorang.
“Berkali-kali saya memastikan ayah untuk datang. Tapi ayah masih bungkam. Sampai akhirnya siang itu ayah mengatakan sesuatu,” Sari diam sebentar sebelum melanjutkan ceritanya.
Sari mengaku, sang kakak tiri sudah berganti agama mengikuti agama ayah tirinya yang sekarang. Begitu juga dengan ibu Rio.
“Siapa yang enggak sedih? Apalagi melihat wajah ayah yang sangat terpukul,” lanjut Sari.
Sari mengaku, andai waktu dapat diputar ulang. Ia akan bersikeras membujuk Rio ikut tinggal bersama sang ayah dan bersekolah di Indramayu saat itu. Kalaupun itu terjadi, mungkin saja kejadiannya tidak akan seperti ini.
“Ini menjadi pelajaran bagi kami sekeluarga. Meskipun sedih tidak dapat hadir ke acara pernikahan Rio, kami tetap menghormati keputusan ayah,” pungkasnya. (Deppy-PPL/Radar Banten)









