JAMAAH haji dari seluruh dunia bakal berkumpul di Arafah untuk menjalani wukuf pada 9 Zulhijah atau 11 September lusa. Untuk menghindari kepadatan pergerakan jamaah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bakal memberangkatkan jamaah asal Indonesia sejak 8 Zulhijah atau 10 September pagi. Diharapkan, pergeseran jamaah itu selesai sebelum magrib.
“Jamaah haji Indonesia akan digerakkan ke Arafah sejak pukul 07.00 pagi. Sudah kami siapkan petugas transportasi untuk memandu mereka menggunakan bus ke Arafah,” ujar Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Mekkah, kemarin.
Dia menjelaskan, jadwal keberangkatan jamaah tiap kloter sudah disosialisasikan ke masing-masing pemondokan. Harapannya, setiap petugas kloter sudah merancang persiapan pemberangkatan dan diketahui seluruh jamaah. “Tahun lalu banyak jamaah yang terlalu lama berada di pinggir jalan menunggu bus. Tahun ini jangan sampai terjadi,” ujarnya.
Menag juga bersyukur, banyak tambahan fasilitas yang didapatkan jamaah haji asal Indonesia dalam menjalani puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Dia Arafah, pihak Muassasah (institusi penyelenggara layanan ibadah haji Arab Saudi) sudah memperbaiki kualitas pendingin ruangan. Begitu juga di Muzdalifah. Muassasah juga menyediakan karpet untuk jamaah haji beristirahat selama mabit (menginap-red). “Di Mina juga sudah dipasang traffic light di persimpangan-persimpangan untuk mengatur pergerakan jamaah yang berjalan kaki. Tujuannya untuk menghindari tragedi yang sama dengan tahun lalu,” ujarnya.
Kemarin juga dilaksanakan rapat Satuan Operasional Arafah Muzdalifah dan Mina (Satop Armina). Dipimpin Kasatop Armina Jaetul Muchlis, rapat itu memastikan seluruh personel sudah siap sebelum jamaah tiba di padang Arafah. “Satgas Arafah mulai diberangkatkan ke lokasi wukuf pada 7 Zulhijah (9 September-red),” ujarnya.
Di Arafah, Muchlis membentuk tim ad hoc yang menyebar ke maktab-maktab para jamah. Tujuannya untuk menghindari konsentrasi petugas yang terlalu banyak di tenda Kantor Misi Haji seperti sebelum-sebelumnya. Tim ad hoc akan berada di enam sektor yang mencakup 52 maktab.
Di setiap maktab juga akan ditugasi tim yang terdiri dari tiga orang. Dua orang dari petugas katering, satu orang lagi untuk petugas akomodasi. “Kami sudah merekrut 154 tenaga musiman lokal untuk petugas katering dan 52 petugas akomodasi. Mereka siap bertugas di Arafah,” ujarnya.
Khusus di Muzdalifah, Muchlis juga sudah menyiapkan sembilan satgas untuk mengawal jamaah yang mabit atau menginap sebelum bergerak ke Mina. “Di Mina juga sudah kami siapkan petugas termasuk jalur-jalur evakuasi jamaah jika terjadi peristiwa darurat,” ujarnya.
Dari sisi kesehatan, PPIH juga mendapat tambahan ambulans dari Muassasah. Jumlahnya 27 unit. Tujuh unit ambulans dijadikan mobil jenazah, sementara 20 unit lainnya untuk evakuasi jamaah yang mendadak sakit. “Muassasah hanya membantu unit-unit ambulans. Tenaga teknisnya harus kita sediakan sendiri,” ujar Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono, kemarin.
Hari ini, tim kesehatan juga akan memastikan kondisi sepuluh bus safari wukuf bagi jamaah yang tidak bisa menjalani prosesi Arafah secara mandiri. Enam bus bisa membawa jamaah dalam kondisi duduk, sementara empat bus bisa membawa jamaah dalam kondisi berbaring.
“Dengan kondisi bus yang sudah dimodifikasi, saya perkirakan kapasitasnya sekitar 160 jamaah saja,” ujarnya. Menurut Anung, kapasitas itu masih berpotensi kurang, mengingat jumlah jamaah yang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah mencapai 99 orang. Ditambah jamaah yang dirawat di rumah sakit Arab Saudi yang mencapai 58 orang, total jamaah yang berpotensi harus menjalani safari wukuf bisa mencapai 156 orang.
“Tapi, kita belum bisa memastikan jumlah jamaah yang akan ikut safari wukuf dengan cara duduk atau pun tidur. Kalau yang harus dibawa dengan tidur sangat banyak, ya kapasitasnya kurang,” ujar Anung. (JPG/Radar Banten)









