Ini bisa dibilang jarang. Bisa juga langka. Tapi pasti bukan satu-satunya. Selama ini rasanya kita lebih sering menemukan petani yang ingin menjadi pegawai bank, bukan ahli keuangan yang justru memilih menjadi petani.
Ia adalah Anis F. Salam. Pensiunan bank. Pendidikan S1, S2, hingga S3-nya linier di bidang keuangan. Dunia angka. Dunia laporan. Dunia manajemen finansial. Tapi kini, pagi-paginya justru dihabiskan di antara sayuran hijau, instalasi pipa hidroponik, dan suara air yang terus mengalir.
Rabu pagi kemarin, sekitar pukul 07.30 WIB, saya sengaja menemuinya di Graha Hydroponik, Kelurahan Drangong, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.
Saya datang pagi-pagi karena tahu, Anis termasuk pensiunan yang sibuk. Produktif.
“Tapi S3 saya gak selesai. Karena tidak bisa tinggal selama tiga bulan terus-menerus di Malaysia. Sekarang saya S3 lagi, tapi bidang pertanian,” kata Anis.
Selain mengelola hidroponik, ia juga sering mengisi workshop dan kini menjadi Wakil Rektor III Universitas Primagraha.
Ini kunjungan kedua saya setelah enam tahun berlalu. Tahun 2019 saya memang pernah datang untuk melihat kebun melon dan sayuran hidroponiknya. Tapi kali ini saya ingin tahu lebih dalam: mengapa seorang ahli keuangan bisa berubah menjadi petani.
Saat datang, kami tidak banyak basa-basi. Sama-sama dikejar agenda. Saya langsung diajak melihat aktivitas rutin pagi di Graha Hydroponik. Beberapa pekerja tampak memilah hasil panen yang sedang dikemas untuk dikirim ke supermarket dan minimarket.

Anis lalu mengangkat satu pakcoy yang disisihkan. “Kalau seperti ini tidak bisa dijual,” katanya sambil menunjukkan daun yang berlubang dimakan ulat. “Kami jual yang betul-betul bagus, bersih, dan sudah dicuci.”
Standarnya tinggi. Tidak sekadar menanam lalu menjual.
Anis bercerita, awalnya ia hanya ingin punya aktivitas setelah pensiun. Ingin sehat. Itu saja.
Dokter yang memeriksanya mengingatkan bahwa ia punya riwayat keluarga diabetes melitus yang kuat. Ayahnya, ibunya, kakaknya, hingga adiknya meninggal akibat penyakit gula.
Ia diminta mencari aktivitas fisik yang menyenangkan.
Dokternya kemudian menyarankan belajar hidroponik. Bahkan diarahkan untuk melihat langsung praktik hidroponik di Bandung sebelum memutuskan terjun lebih jauh.
Anis tertarik. Lalu belajar.
Awalnya sederhana. Hanya untuk kesehatan. Tidak ada niat bisnis. Ia mulai membuat kebun hidroponik kecil di halaman rumah. Sambil praktik, sambil terus belajar.
“Saya kuliah lagi di Politeknik YouTube Indonesia,” katanya sambil tertawa.
Kalimat itu terdengar ringan, tapi justru di situ menariknya. Seorang doktor keuangan tidak gengsi belajar dari YouTube. Tidak merasa ilmunya selesai hanya karena gelar akademiknya panjang.
Kini hidroponik Anis berkembang pesat. Yang awalnya sekadar aktivitas menjaga kesehatan setelah pensiun, berubah menjadi sumber ekonomi yang serius.
Hasil kebunnya sudah masuk pasar modern di Kota Serang dan Kota Cilegon. Bahkan ia mulai membutuhkan lebih banyak petani hidroponik untuk memenuhi permintaan pasar.
“Kalau sendiri tidak cukup,” ujarnya.
Pasar sayur hidroponik memang punya segmen tersendiri. Konsumen kelas menengah ke atas yang ingin sayuran segar, sehat, dan higienis.
Untuk menjaga kualitas, air pencuci sayur yang digunakan pun sudah melalui uji laboratorium. Sambil menjelaskan, Anis menunjuk beberapa kran air di area kebunnya.
Sejak 2018, ia juga mulai membuka pelatihan hidroponik bagi masyarakat umum. Banyak peserta berasal dari kalangan pekerja yang memasuki masa persiapan pensiun.
Di Graha Hydroponik bahkan sudah tersedia ruang pelatihan khusus dengan kapasitas sekitar 25 orang. Tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya.
Anis ingin semakin banyak orang menjadi petani hidroponik.
Menurutnya, pertanian modern tidak harus identik dengan lumpur, panas, dan kerja fisik berat. Ia menyebut hidroponik sebagai pertanian futuristik.
“Tidak perlu lahan luas. Yang penting kemauan,” katanya.
Kalimat itu terasa seperti kritik halus terhadap cara berpikir kita selama ini. Kita terlalu sibuk bicara luas lahan sebelum mulai bertani. Padahal banyak lahan tidur di sekitar kita yang sebenarnya bisa dimanfaatkan.
Anis membayangkan setiap kompleks perumahan memiliki area hidroponik sendiri di lahan fasilitas sosialnya. Warga bisa menghasilkan sayuran segar dari lingkungannya sendiri.
Bukan sekadar urban farming untuk gaya-gayaan. Tapi menjadi aktivitas produktif yang bisa mengurangi pengangguran.
Ia lalu memberi contoh sederhana.
Tahun 2017, harga pakcoy di pasar tradisional sekitar Rp5 ribu per kilogram. Sementara hasil hidroponik bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram.
Sekarang pun selisihnya masih jauh. Sayur biasa di pasar tradisional sekitar Rp15 ribu per kilogram. Sedangkan hidroponik miliknya dijual Rp15 ribu per 150 gram.
Pasarnya ada. Nilai ekonominya juga nyata.
Karena itu Anis ingin menciptakan petani-petani futuristik. Tidak dibatasi usia. Tidak harus muda. Tidak harus punya sawah luas.
Yang penting mau belajar.
Petani yang punya masa depan. Bukan petani yang sekadar punya kegiatan. (Mashudi)









