SELAMA ini kolesterol tinggi identik dengan penyakit berat, sebut saja jantung, hipertensi hingga diabetes.
Padahal kolesterol berlebih juga mengancam organ bagian dalam pada telinga, sehingga bisa memicu tuli saraf.
Dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan, dr Stephani Linggawan, SpTHT-KL mengatakan, kolesterol memicu penumpukan lemak di pembuluh darah, sehingga aliran darah terhambat.
Hal itu juga terjadi di pembuluh darah pada telinga. Pembuluh darah tersebut menghubungkan telinga langsung dengan saraf kranial di otak.
“Jenis tuli akibat kolesterol berlebih ini disebut tuli saraf. Yakni akibat gangguan pada saraf telinga,” ujarnya ketika ditemui di RS Adi Husada Undaan Wetan kepada Radar Surabaya (Jawa Pos Group).
Stephani menyebut, penumpukan lemak membuat aliran darah terganggu.
Termasuk di pembuluh darah telinga.
Akibatnya, sirkulasi pendengaran terganggu. Itu karena suara yang dihantarkan gendang telinga lambat direspon oleh pembuluh darah.
“Padahal pembuluh darah bertugas menerjemahkan suara. Selain itu, ia juga sebagai penyeimbang. Jika sudah begitu, cochlea atau rumah siput juga berisiko mengalami gangguan,” lanjutnya.
Stephani mengaku, ada beberapa gejala yang muncul sebelum tuli saraf benar-benar menyerang.
Pertama adalah seringnya telinga mengalami tinnitus, yaitu telinga sering mendengung dengan sendirinya.
Hal itu dibarengi dengan telinga yang merasa sakit saat mendengar suara keras. Biasanya, diatas 50 desibel, telinga akan merasa nyeri.
“Itu dikarenakan cochlea yang mulai rusak dan terganggu. Sehingga suara keras yang dihantarkan gendang telinga membuat cochlea merasa nyeri,” pungkasnya. (gus/nur/JPG)









