ADA yang unik pada rumah tangga Tuti (40), nama samaran. Segala cara telah ditempuh Tuti untuk mempercantik diri demi membuat betah suami. Bahkan, Tuti sampai menjalani operasi pada wajahnya yang seksi.
Namun, tampaknya perjuangan Tuti selama ini sia-sia. Sang suami, sebut saja Boni (41), tetap pada tabiatnya menjadi playboy sejati. Doyan main perempuan dan jarang berada di rumah. Lantaran itu, hidup Tuti di rumah kini terasa mati. Kini di rumah hanya tinggal berdua, sejak mereka ditinggalkan anak laki-laki semata wayangnya yang mulai membangun rumah tangga. Sejak itu, penyakit hidung belang suami semakin menjadi-jadi.
“Sekarang mah bodo amat, dia (suami) mau ngapain juga. Habis bingung harus ngapain lagi biar suami betah di rumah,” keluhnya.
Sepertinya, kesabaran Tuti tak ada habisnya. Melihat tingkah Boni yang selalu genit setiap bertemu perempuan cantik nan seksi, Tuti hanya bisa mengelus dada meskipun bikin gerah. Tuti tak pernah tahu apa yang dicari Boni dari perempuan. Padahal, Tuti juga secara fisik sepintas lumayan manis.
“Suami tuh buaya. Berani genit sama perempuan di depan saya. Dimarahi juga cuek saja. Tapi, saya enggak bisa menceraikan, sudah terlalu sayang,” jelasnya.
Tuti mengakui, dirinya memiliki kekurangan yang membuatnya kerap minder ketika jalan bersama Boni. Hidung Tuti terlalu mini, tak sebanding dengan hidung Boni yang bangir. Awalnya, Tuti berpikir gara-gara hidungnya itu yang membuat Boni semakin hari semakin menjauh darinya. Ternyata, Tuti salah sangka.
“Soalnya, kalau lagi bercanda di rumah, pasti yang dibahas soal hidung. Kadang bercanda Mas Boni suka keterlaluan,” terangnya. Keterlaluan bagaimana maksud Mbak?
“Suka menyebut hidung saya tuh mirip leunca-lah. Ada lagi yang lebih parah, ‘hidung sekecil itu kamu napasnya bagaimana?’ Begitu sambil menunjuk hidung tuh, bikin kesel kan! meledeknya bikin sakit hati,” tukasnya. Waduh sadis amat ya. Hidung mirip leunca segede bagaimana tuh! Masih bisa napas kan Mbak? Hihihi.
Diakui Tuti, bentuk hidungnya dulu tak seperti sekarang. Bentuk hidung berubah seiring Tuti yang terbujuk rayuan teman, mengubahnya dengan proses suntik silikon. Hal itu dilakukan Tuti biar hidungnya bertambah mancung, bermaksud untuk memikat hati suami. Tuti yang penasaran pun mulai coba-coba.
Memang hasilnya sesuai harapan, hidung Tuti bertambah mancung. Hanya saja, lama-lama bentuk hidung makin membengkak dan terlihat besar. Kondisi itu membuat Boni bukannya senang, malah kaget dibuatnya.
“Sekarang suami malah makin cuek di rumah. Katanya, jijik lihat hidung saya yang besar. Boro-boro mau memuaskan suami, disentuh saja jarang,” akunya.
Suntik silikon yang dilakukan Tuti tidak hanya pada hidungnya, tetapi juga pada bibir, dagu, dan pipi sehingga wajahnya terlihat lancip layaknya wajah aktris India. Pernikahannya dengan Boni diawali rasa kagum Tuti kepada kegantengan Boni. Meskipun Boni hanya berprofesi sebagai pedagang di pasar setelah lulus SMA. Begitu pula dengan Tuti, yang terlahir sebagai anak pedagang juga. Keduanya semakin intens bertemu di pasar, sampai akhirnya mereka menjalin hubungan setelah Tuti nekat mengungkapkan perasaannya kepada Boni.
“Jujur saya yang suka duluan sama Mas Boni. Soalnya, bukan hanya ganteng, orangnya juga kelihatan baik,” katanya.
Tuti tidak pernah tahu sebelumnya kalau Boni itu buaya karena pada saat menjalankan profesinya berjualan di pasar, sikap Boni normal-normal saja. Padahal, di luar Boni ternyata pandai mempermainkan hati wanita. Ow ow ow.
Tuti masuk sarang buaya. Boni pun tidak bisa menolak permintaan Tuti menjadi kekasihnya. Sampai kemudian mereka akhirnya menjalin hubungan asmara.
“Saya enggak tahu Mas Boni lihat saya dari apanya. Dulu, bodi saya padahal kan bohai Mas,” ujarnya.
Tiga tahun sudah mereka menjalani asmara dan Tuti semakin mengenal watak Boni yang genit kepada setiap perempuan. Lamanya menjalin hubungan dan sudah diketahui kedua orangtua masing-masing, membuat Tuti semakin sayang dan membiarkan sikap negatif Boni yang demikian. Dipikir Tuti, Boni seperti itu mungkin sekadar hiburan, tidak ada unsur keseriusan.
“Bagi saya waktu itu, enggak apa-apa mata tidak setia, yang penting hati setia,” terangnya.
Namun, setelah pernikahan Boni semakin menunjukkan belangnya. Kemesraan mereka hanya ditunjukkan pada tiga bulan pertama setelah menikah. Setelah itu, Boni berani memperlihatkan keberingasan ketika melahap mangsanya, yakni makin genit kepada semua perempuan yang ditemuinya. Bahkan, berani pegang-pegang perempuan di depan Tuti dan mengenalkan mantan-mantannya.
Ketika dikaruniai anak juga, Boni bukannya sadar, malah semakin beringas. Goyangan maut Tuti pun sudah tidak berpengaruh lagi untuk menyadarkan perangai negatif Boni. Sifat Boni malah menurun kepada anaknya, Beni. Memasuki masa SMA, Beni hampir tiap minggu gonta-ganti pacar.
“Enggak anak enggak bapak, sama gilanya. Tapi, alhamdulillah sekarang si Beni sudah punya istri. Cuma tinggal Mas Boni nih belum sadar saja, sudah tua juga, pusing jadinya,” keluhnya.
Usaha Tuti membuat betah suami ternyata tak menemui hasil. Padahal, segala upaya telah dicoba. Mulai dari perawatan ke salon ternama, jaga kondisi badan dengan rutin berolahraga, sampai diet makanan demi menjaga tubuhnya tetap langsing dan prima. Bahkan, sampai mengubah bentuk wajahnya agar tetap terlihat memesona. Namun, tetap saja semua itu tak membuat Boni berubah menjadi suami setia.
“Di-make over juga percuma, suami tetap buaya,” ketusnya. Namun, diakui Tuti, mengikuti saran temannya itu adalah sebuah kesalahan terbesar. Sejak hidung Tuti membengkak, malah membuat Boni semakin tidak betah di rumah.
“Katanya, lebih baik hidung aku yang mirip leunca daripada begini (bengkak-red). Bukannya cantik, malah seram jadinya,” katanya. Betul tuh Mbak, harusnya disyukuri saja. Setiap orang pasti ada kekurangan dan kelebihan. “Ya, Mas. Saya juga menyesal. Hidung juga enggak bisa balik ke bentuk semula,” sesalnya.
Perilaku negatif Boni, diakui Tuti, saat ini mulai berkurang. Mungkin Boni terenyuh melihat gelagat Tuti terus meratapi penyesalannya yang gagal mempercantik diri demi menyenangkan suami. “Saya sekarang terima saja sifat suami jelalatan. Nanti juga ada waktunya dia sadar,” harapnya. Amin. (Nizar S/Radar Banten)









