SERANG – Air Sungai Ciujung dan Sungai Cidurian yang mengalir di wilayah Kecamatan Tanara dan Tirtayasa diduga tercemar limbah industri. Air permukaan sungai berwarna hitam dan menimbulkan bau menyengat.
Hasil penelusuran Radar Banten terhadap kondisi air sungai di Kecamatan Tirtayasa, Jumat (21/7) siang, aroma menyengat sudah tercium di tepi Sungai Ciujung, Desa Tengkurak. Warna air sungai juga berwarna hitam kehijauan dan tampak berminyak. Kondisi serupa terjadi di Sungai Cidurian, tepatnya di Desa Sukamanah, Kecamatan Tanara.
Idris, warga Desa Tengkurak, menduga perubahan warna dan bau pada air sungai disebabkan limbah industri. Pencemaran air sungai sudah berlangsung selama dua pekan.
Idris menuding, pencemaran air sungai bersumber dari salah satu perusahaan di Kecamatan Kragilan. “Setiap musim kemarau selalu begini (air sungai bau dan menghitam-red). Airnya juga asin,” keluh Idris saat ditemui di tepi Sungai Ciujung, Desa Tengkurak.
Menurut Idris, pencemaran di sungai sudah banyak menimbulkan kerusakan. Di antaranya, ikan-ikan di sungai banyak yang mati karena keracunan limbah. Padahal, air Sungai Ciujung kerap dimanfaatkan warga bantaran sungai. “Biasanya untuk pengadaan air di musala. Sekarang airnya hitam begini, mau ambil wudu di musala sudah enggak bisa,” tukasnya.
Senada disampaikan Farid, warga Desa Sukamanah, Kecamatan Tanara yang mengeluhkan soal air sungai yang diduga tercemar limbah industri. Pencemaran di Sungai Cidurian, menurut Farid, sudah berlangsung sejak tiga hari lalu. “Kalau tidak hujan, air sungai terus berwarna hitam,” ujarnya.
Farid menduga pencemaran air di Sungai Cidurian akibat ulah beberapa perusahaan di Kecamatan Cikande. “Kalau Sungai Ciujung paling cuma satu perusahaan yang mencemari. Kalau yang mencemari ke Sungai Cidurian banyak,” tuduhnya.
Kata Farid, pencemaran air di Sungai Cidurian terjadi lebih dari satu kali dalam satu tahun, terakhir Mei. “Kalau kemarau pasti begini (sungai hitam dan bau-red),” keluhnya.
Padahal, kata Farid, air Sungai Cidurian banyak dimanfaatkan warga bantaran sungai untuk mencuci pakaian, perabotan rumah, hingga mandi. “Kalau tercemar begini, mana bisa dipakai?” kesalnya. “Tolonglah ditindaklanjuti,” pinta Farid.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Sri Budi Prihasto berjanji untuk segera melakukan survei ke lokasi sungai yang diduga tercemar. “Nanti akan kita tinjau. Ada perwakilan kita yang akan datang ke lokasi,” tegasnya.
Menurut Budi, tercemarnya air di Sungai Ciujung dan Cidurian akibat debit air yang mulai menurun. Sementara, volume limbah yang dibuang perusahaan banyak. “Kita akan tindak tegas kalau memang ulah perusahaan. Kita lihat dulu nanti seperti apa di lapangan,” tandasnya. (Rozak/RBG)










