SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pencemaran air Sungai Ciujung yang terjadi beberapa pekan terakhir berdampak bukan hanya kepada masyarakat Kabupaten Serang melainkan juga dirasakan oleh pelaku industri penyedia air bersih di Serang Timur yakni PT Sarana Catur Tirtakelola (SCTK).
Akibatnya, produksi air untuk menyuplai air ke 200 lebih industri dan 2.000 sambungan rumah masyarakat Serang Utara terganggu selama berhari-hari. Pasalnya, kondisi air baku yang diambil dari air sungai Ciujung berwarna hitam, berbau menyengat dan berminyak sehingga tidak dapat diolah.
Direktur Operasional PT SCTK, Widiawan Hosdhijarso, mengatakan dampak pencemaran Sungai Ciujung sudah dirasakan oleh PT SCTK sejak tanggal 12 Juni 2026. Kondisi tersebut, mengganggu produksi air baku lantaran air baku tidak mampu diolah.
“Saat pencemaran tunggi kita stop produksi untuk menjaga kualitas output agar tetap sesuai dengan baku mutu yang dipersyaratkan. Karena memang instalasi yang kita miliki tidak mampu mengolah kondisi air baku yang tercemar. Tentu ini mengganggu operasional kami,” katanya, Selasa 23 Juni 2026.
Ia mengatakan, saat terjadinya pencemaran dan produksi tidak bisa dilakukan. Pihaknya tetap berupaya untuk memenuhi kebutuhan air baku untuk para pelanggan. Salah satu upaya yang dilakukan ialah dengan mengandalkan air yang berada di reservoir.
“Jadi kami tampung reservoir kami itu ada 4.000 m³ kapasitasnya. Nah, itu saat produksi off kita mengandalkan dari situ untuk distribusi air bakunya,” tegasnya.
Ia menuturkan jika kondisi yang terjadi sangat merugikan perusahaan. Biasanya pencemaran mulai terjadi sejak sore hari yang sumbernya berasal dari aliran air sungai Cikambui yang akhirnya bermuara ke sungai Ciujung.
“Yang kami rasakan pencemaran selalu terjadi ketika sore sampai malam hari, lalu pada saat kondisi air sungai surut ataupun kondisi air laut pasang, terjadi back flow yang akhirnya masuk ke instalasi kami. Kami duga sumbernya dari sungai Cikambui yang posisinya berada di downstream intake kami,” tegasnya.
Biasanya pada saat pencemaran terjadi, air sungai berubah warna dan menghitam.
Ia menuturkan jika kejadian ini bukanlah yang pertama terjadi. Menurutnya kejadian pencemaran sungai Ciujung selalu berulang setiap tahun, khususnya pada saat memasuki musim kemarau.
Ia pun berharap kepada pemerintah dan pihak terkait agar bisa melakukan Peneggakan hukum secara tegas terhadap pihak-pihak yang kedapatan mencemari sungai Ciujung. Ia pun mendorong agar dilakukannya pengawasan secara ketat sehingga tidak ada yang berani membuang limbah ke sungai.
“Karena dampak dari pencemaran ini bukan hanya kerusakan lingkungan, tetapi juga kerugian secara sosial, ekonomi yang menurut saya sangat signifikan dampaknya bagi warga yang tinggal di dekat sungai,” tegasnya.
Direktur Komersial dan Exaternal Relations PT SCTK, Deden Rochmawaty, mengatakan PT SCTK dalam pelayanan selalu berupaya untuk memprioritaskan 3K yakni kontinuitas, kualitas dan kuantitas.
“Untuk menjaga kualitas airnya, kami memiliki lab sendiri sehingga kualitas air bisa terpantau setiap saat. Lalu petugas kami di lab juga ada tiga shif. Kami terus memantau agar air yang disampaikan ke pelanggan bisa memenuhi 3K,” tegasnya.
Ia menegaskan selain pelanggan industri yang terganggu, adanya pencemaran juga tentunya akan menggangu masyarakat yang menggunakan layanan air bersih dari PDAM Tirta Al-Bantani. Karena pihaknya juga mendeliver air untuk PDAM agar diditibusikan untuk pemenuhan domestik.
Editor: Abdul Rozak











