SERANG – Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Serang masih cukup tinggi. Hal ini berdampak pada rendahnya angka harapan hidup di Kabupaten Serang.
Jumlah kematian ibu pada 2016 terdapat 59 orang dan kematian bayi sebanyak 190 jiwa, jumlah lahir mati sebanyak 161 jiwa. Di tahun 2017 tercatat 39 kasus kematian ibu dan 192 kematian bayi.
“Angka kematian ini berdampak pada IPM,” kata Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah saat Rapat Koordinasi Lintas Sektor Percepatan Penurunan AKI dan AKB di Pendopo Bupati Serang, Selasa (17/10).
Dikatakannya, persoalan ini harus diselesaikan lintas sektor seluruh OPD dan sektor lainnya. Dengan memetakan rencana, sehingga dapat terukur progres ke depan.
“Dari hasil ini harus jelas. Siapa berbuat apanya. Misalnya, tiga bulan ke depan duduk bersama OPD, membuat program apa, menampilkan program apa 2018 nanti, terkait penurunan angka kematian ibu dan bayi lahir,” ujarnya.
Tentu semuanya harus bergerak. Kata Tatu, semua harus bersinergi agar penurunan angka kematian cepat teratasi. Dalam Perda sistem kesehatan Kabupaten Serang tahun 2010, pihaknya akan merevisi kembali.
“Disana dituangkan lebih jelas tugas masing-masing. Supaya ada pedomannya. Mereka (lintas sektor-red) harus berbuat apa, kan, sudah jelas,” katanya lagi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Serang Sri Nurhayati mengatakan, tingginya AKI dan AKB disebabkan karena pendarahan. Sering terjadi pada ibu hamil penderita anemia sehingga dibutuhkan kerjasama oleh semua pihak termasuk masyarakat dan keluarga. “Penyebab kematian pun karena ibu hamil berusia muda dan usia tua,” ungkapnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).









