SERANG – Amin Sobri (17) babak belur setelah dihajar belasan oknum polisi, Kamis (19/10). Pemukulan terhadap pelajar SMK PGRI 1 Kota Serang itu dipicu oleh asmara yang melibatkan salah satu oknum polisi.
Peristiwa pemukulan itu bermula saat warga Kampung Pendeuy, Desa Lebak, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, akan pulang sekolah sekira pukul 13.00 WIB. Saat itu, korban didatangi oleh oknum polisi berinisial R.
Korban dan R sempat berbincang-bincang terkait ucapan korban yang bernada menghina R. Ucapan itu dilontarkan korban lantaran R dinilai sedang mendekati teman perempuannya. “Saya punya cewek, dia (R-red) itu mengejar-ngejar cewek saya. Saya mencoba ngomong ke dia (R-red) untuk melarang. Terus dianya bertele-tele, bertanya-tanya kepada saya, mancing emosi saya. Dan akhirnya, saya dan dia emosi, keluarlah perkataan-perkataan yang tidak baik,” jelas Amin.

Namun, percakapan itu tidak berakhir baik. Emosi R tak terkendali. Tanpa ampun R langsung memukuli korban. “Di depan sekolah dia (R-red) datangi saya. Terus ngobrol, saya minta maaf atas perkataan saya yang semalam, tapi dianya malah ajak ribut, terus memukul saya,” kata Amin ditemui di Rumah Sakit dr Dradjat Prawiranegara, tadi malam (19/10).
Keributan itu sempat diredakan oleh warga setempat. Korban diamankan ke sebuah warung di area sekolah SMK PGRI 1 Kota Serang di jalan Ciwaru Raya, Kampung Cipare, Kecamatan Serang.
“Ternyata dia (R-red) masih di sekitaran situ. Datang lagi ke warung mau menyeret saya, lalu saya dipukuli di situ,” ungkap Amin.
Tak cuma R, Amin mengaku dipukuli oleh rekan R lainnya. Tiba-tiba ada sekelompok pemuda berseragam polisi menyeretnya dan memukulinya. “Ada satu mobil datang lagi, satu per satu menampar saya. Saya lihat menggunakan seragam, tapi pakai jaket,” jelas Amin.
Korban sempat dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil minibus. Lantaran menolak, bogem mentah kembali mendarat di tubuh korban. “Tangan saya ini luka bekas diborgol,” ucap Amin.
Beruntung, korban berhasil diamankan satpam sekolah. Belasan pelaku akhirnya pergi meninggalkan lokasi. “Waktu itu ada teman-teman saya yang memvideokan sama foto, tapi disuruh dihapus sama mereka (diduga oknum polisi),” kata Amin. Akibat pemukulan, korban mengalami luka gores dan memar di bagian kaki, tangan, punggung, dan wajah.
“Saya sebagai ayah saja tidak pernah pukuli anak sendiri, ini, orang lain. Saya sedih. Kita akan lapor ke Polda Banten,” singkat Madroji (40) ayah korban.
Didampingi keluarganya, Amin melaporkan peristiwa itu ke Propam Polda Banten. Seusai membuat laporan, Amin dan keluarganya langsung meninggalkan Mapolda Banten.
“Masalahnya sudah selesai. Diselesaikan secara musyawarah. Kebetulan kedua belah pihak saling mengenal dan satu kampung,” kata Kabagbin Ops Direktorat Sabhara Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Andik Puji Santoso.
Dia mengakui terjadi salah paham antara R dan korban. R dan seorang rekannya telah diamankan dan diperiksa Propam Polda Banten.
“Dua orang sudah dilakukan pemeriksaan, antara lain yang bersangkutan berinisial Bripda R. Proses propam tetap dilaksanakan. Sanksi, nanti setelah hasil pemeriksaan,” tegas Andik. (Merwanda/RBG)










