SERANG – Dinas Pariwisata Banten mempromosikan kesenian wayang ajen yang berasal dari bumi priangan, tepatnya Kuningan, Jawa Barat. Pertunjukan itu akan dihelat di Alun-alun Barat, Kota Serang, Sabtu (25/11). Namun, pertunjukan itu mendapat kritikan dari pegiat kesenian di Banten.
Menurut Ketua Dewan Kesenian Banten (DKB) Chavcay Saefulah mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kesenian Jawa Barat yang ditampilkan di Banten. Namun, kata dia, alangkah baiknya ada pengoptimalan dalam menghadirkan kesenian-kesenian tradisi Banten di ruang publik. “Membangun kebudayaan, bisa lewat kesenian, politik, ekonomi, tapi kesenian menjadi garda terdepannya. Jadi, kita jangan merasa hadirkan kesenian Jawa Barat, kita akan hilang. Tapi, memang harus ada pengoptimalan menghadirkan kesenian-kesenian tradisi Banten di ruang publik, ini yang saya tangkap dari kesenian-kesenian tradisi,” katanya.
Menurut Chavcay, pada dasarnya kesenian itu bersifat terbuka tidak mengenal batas ruang. Namun, tetap harus ada upaya mengoptimalkan kesenian tradisional Banten tumbuh. “Kita harus melakukan pengoptimalan kesenian tradisi Banten di ruang publik,” tegasnya lagi.
Chavcay menilai, tugas pemerintah dalam bidang kesenian bukan dalam urusan teknis pementasan yang bersifat seremonial. “Pemerintah bukan tugasnya mendorong orang menjadi seniman, atau seniman malas menjadi seniman rajin, itu bukan tugas pemerintah, tapi tugas sanggar, tugas komunitas kesenian. Karena bagaimana pun pemerintah mengintervensi urusan teknis seperti itu tidak akan berhasil karena dunianya, mekanisme beda,” katanya.
Menurutnya, indikator pemerintah berhasil membangun kesenian ketika pemerintah hadir memfasilitasi ruang-ruang berkesenian. “Pertanyaan saya, sudah adakah taman budaya di Banten, gedung kesenian di Banten, dan institusi di Banten? Kalau itu belum ada, pemerintah belum pro terhadap kesenian,” cetusnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pemangku Adat Kesultanan Banten Udin Saparudin menyatakan, dibentuknya Provinsi Banten untuk keadilan dan kesejahteraan Banten yang punya peradaban tinggi, kaya akan seni budaya. “Jadi kalau Dinas Pariwisata Banten tidak mampu untuk mengangkat kearifan lokal Banten sebagai jati diri, ini sesungguhnya ada sikap gagal kemampuan,” ujarnya.
Menurutnya, masih banyak kegiatan kearifan lokal Banten yang lebih bagus untuk ditampilkan. “Saya dan kawan-kawan aktivis pembentukan Provinsi Banten merasa tersinggung atas dinas tersebut. Wayang ajen itu budaya kiriman Pajajaran bukan Kesultanan Banten. Jadi kalau bicara budaya Banten, tentu yang harus diangkat utama adalah kebesaran kesultanan,” tegasnya.
Kemarin, usai konferensi pers persiapan final pemilihan Kang Nong Banten, Kepala Dinas Pariwisata Banten Eneng Nurcahyati sempat menyinggung pertunjukan wayang ajen. “Ini untuk melestarikan kebudayaan yang dimiliki Indonesia,” katanya.
Bahkan, kepada wartawan ia memberikan brosur yang berisi gambaran tentang pertunjukan wayang ajen. Dalam brosur itu, tertulis pertunjukan spektakuler wayang ajen dengan Dalang Wawan Ajen. Selain brosur, Eneng juga memberikan susunan acara tersebut.
Sementara itu, dalam akun Instagram Eneng Nurcahyati menjelaskan, pertunjukan spektakuler wayang ajen didukung Kementerian Pariwisata melalui Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara. Dijelaskannya, pertunjukan wayang ajen akan bercerita tentang pembangunan Banten termasuk pariwisatanya yang berkolaborasi dengan seni budaya Banten. (Supriyono/RBG)








