SERANG – Radar Banten, Banten Raya TV, dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Serang menjalin kerja sama untuk penyebaran informasi di bidang kesehatan.
Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dilakukan antara Direktur Radar Banten Mashudi dan Ketua IDI Cabang Serang dr Budi Suhendar SpF DFM saat Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) I IDI di Hotel Ultima Horison Ratu, Kota Serang, Sabtu (10/3).
Penandatanganan MoU bersejarah itu disaksikan langsung Ketua Umum Pengurus Besar (PB) IDI Prof dr Ilham Oetama Marsis SpOG, Ketua IDI Wilayah Banten dr Hendrarto, SpTHT-KL, Pemimpin Redaksi Radar Banten Ahmad Lutfi, Pemimpin Redaksi Banten Raya TV Fery Setiawan, dan ratusan dokter yang mengikuti PIT I IDI itu.
Ketua IDI Cabang Serang dr Budi Suhendar SpF DFM mengatakan, kerja sama dengan Radar Banten dan Banten Raya TV merupakan upaya memberikan informasi secara akurat kepada masyarakat mengenai topik kesehatan. Apalagi, Radar Banten dan Banten Raya TV adalah media yang dikenal luas masyarakat.
“Informasi mengenai kesehatan efektif disuarakan oleh media. Di sini peran media sangat penting dan strategis untuk menyampaikan banyak hal yang memang bisa menjadi masukan di satu wilayah,” katanya.
Ia mengatakan, saat ini masyarakat sudah banyak yang mengetahui mengenai informasi kesehatan. Namun, jarang masyarakat yang memahami secara detail informasi kesehatan tersebut. “Jadi, kerja sama dengan media ini merupakan salah satu bentuk upaya kita memberikan pemahaman kepada masyarakat. Semoga nantinya menjadi pola pikir dan pola tindak yang bisa mengubah budaya individu masyarakat,” tutur ahli forensik di Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara Serang ini.
Ia berharap, kerja sama dengan Radar Banten dan Banten Raya TV bisa memberikan informasi kepada masyarakat secara optimal. “Kami ingin menyuarakan standar yang memang patut dipenuhi oleh fasilitas layanan kesehatan agar masyarakat bisa mendapatkan hak-haknya dengan optimal,” harapnya.
Ketua Umum PB IDI Prof dr Ilham Oetama Marsis SpOG menyatakan, kerja sama dengan media menjadi salah satu upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai aspek kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. “Karena yang selalu dilupakan itu bahwa pencegahan sebetulnya lebih baik daripada pengobatan,” terangnya.
Ia juga menyatakan, derajat kesehatan di salah satu daerah bisa dilihat dari data jumlah angka kematian bayi dan kematian ibu sesuai batas dari World Health Organization (WHO). Jika kedua indikator tersebut masih tinggi, faktor kesehatan di daerah itu masih memiliki permasalahan yang harus segera dicarikan solusinya.
“Selama kita belum bisa menekan indikator itu, kita belum siap untuk menyongsong era Indonesia emas tahun 2045. Tapi dengan kerja sama ini, saya yakin kita bisa saling membantu untuk menyelesaikan permasalahan pemerintah terkait bidang kesehatan,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Direktur Radar Banten Mashudi menerangkan, kerja sama dengan IDI Cabang Serang hasil kesepakatan antara kedua pihak yang sama-sama memiliki niat membantu pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan di tengah masyarakat khususnya mengenai kesehatan. “Kita sebagai media berkewajiban ikut bersama-sama membangun masyarakat Banten. Oleh sebab itu, kita harus ikut serta memberikan sumbangsih untuk mengurangi persoalan dan penyelesaian terkait kesehatan di masyarakat,” ungkapnya.
Bentuk kerja sama yang disepakati akan memudahkan masyarakat jika ingin mengajukan pertanyaan terkait kesehatan yang ia hadapi. “Di televisi (Banten Raya TV-red), nanti ada acara program yang berkeliling ke tengah-tengah masyarakat bersama dengan IDI untuk menyampaikan informasi dan edukasi terkait kesehatan. Kalau di koran, kita membuka rubrik yang isinya terkait kesehatan dan disampaikan IDI langsung melalui para anggotanya,” ujarnya.
Mashudi menyatakan bahwa penyebarluasan informasi mengenai kesehatan di media bisa memudahkan dokter ketika memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait edukasi kesehatan. Selain itu, pola ini juga akan lebih efektif digunakan dokter saat menyampaikan informasi ke masyarakat.
“Kalau sebelumnya penyampaian edukasi kesehatan ke masyarakat yang kumpulnya hanya ratusan orang saja, sekarang bisa sampai ratusan ribu orang sekali ngomong. Sehingga efektif dengan cara penyampaian informasi di media,” terangnya.
Ia berharap, kerja sama ini membantu pemerintah daerah di Provinsi Banten dalam menyelesaikan persoalan kesehatan di masyarakat. “Kita tentunya berharap kerja sama berjalan dengan baik sesuai dengan yang kita inginkan sama-sama. Mudah-mudahan keinginan IDI dan kami dalam membangun masyarakat Banten bisa tercapai sesuai cita-cita yang diinginkan pemerintah,” pungkasnya.
Usai melakukan penandatanganan MoU, Mashudi diajak dr Budi Suhendar melihat salah satu ambulans yang berfungsi menangani kondisi gawat darurat. Ambulans yang dilengkapi sejumlah alat kesehatan itu pun disebut memiliki standar prima dalam melakukan penanganan pertama terhadap kondisi gawat darurat.
Di dalam ambulans, sudah tersedia sejumlah alat seperti tabung oksigen, monitor yang berfungsi menunjukkan tekanan darah, detak jantung dan oksigen ke paru-paru, suction pump atau alat pengisap cairan jika pasien tidak sadarkan diri, tensimeter untuk melihat tekanan darah, alat kejut jantung atau DC shock dan ventilator atau alat yang digunakan untuk membantu pasien apabila napasnya berhenti secara mendadak. (Rifat/RBG)








