CILEGON – Selama beberapa bulan terakhir Gunung Anak Krakatau mengalami letusan. Namun, sejak 17 Agustus letusan terjadi setiap hari dan disertai dentuman keras. Jumlah letusan pun tidak sedikit, mencapai angka ratusan.
Informasi tersebut Radar Banten peroleh dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang. Berdasarkan data yang dihimpun, letusan yang disertai dentuman keras baru terjadi sejak 17 Agustus. Sebelumnya, gunung yang berada di tengah-tengah Selat Sunda itu hanya mengalami letusan biasa.
Pengamat Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Deni Mardiono menjelaskan, hal itu merupakan pertanda jika Gunung Anak Krakatau sedang menunjukkan peningkatan aktivitas kegempaannya. Dan hal itu menurutnya merupakan fenomena alam yang wajar untuk gunung berapi yang masih aktif.
Menurutnya, kondisi itu biasanya terjadi selama dua bulan hingga empat bulan. “Bahkan (bisa) lebih, kita tidak bisa memprediksi kapan gunung akan meletus. Kita ikuti saja alam, kalau sedang meletus ya harus menjauh,” ujar Deni, Senin (20/8).
Berdasarkan data yang dimiliki oleh Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, berapa hari terakhir, Gunung Anak Krakatau mengalami letusan sebanyak ratusan kali. Pada Sabtu (18/8) letusan terjadi sebanyak 576 kali. Pada Minggu (19/8) letusan terjadi sebanyak 248 kali. “Hari ini (kemarin-red) belum bisa kita rekap, karena laporan hari ini dilaporkannya keesokan harinya,” ujarnya.
Meski jumlah letusan cukup banyak, Deni mengimbau agar masyarakat Banten untuk tetap tenang dan jangan terpancing isu-isu tentang letusan Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami serta dapat melakukan aktivitas seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan dari BPBD setempat.
Sementara itu, Humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Fariz Rizki mengatakan, sejuah ini aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak mempengaruhi lalu lintas penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. “Kita belum menerima surat dari otoritas pelabuhan dalam hal ini KSOP, kita pun belum menerima surat dari instansi resmi lainnya. Karena itu semua penyeberangan masih normal,” ujarnya.
Bahkan beberapa hari terakhir, cuaca cukup bagus, angin dan gelombang laut masih dalam kategori normal sehingga tidak menghalangi kapal-kapal untuk menyeberang. “Kalau soal prosedur keselamatan, tanpa ada peristiwa Gunung Anak Krakatau pun selalu diterapkan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan resminya menjelaskan, gunung yang terletak di perairan Selat Sunda itu hampir setiap hari mengalami letusan.
Untuk kejadian Sabtu itu, letusan terjadi dengan amplitudo 23 hingga 44 mm, dan durasi letusan 19-255 detik. Letusan disertai lontaran abu vulkanik, pasir, lontaran batu pijar, dan suara dentuman. “Secara visual pada malam hari teramati sinar api dan guguran lava pijar. Hembusan berlangsung 80 kali kejadian, amplitudo 5-30 mm dengan durasi 10-80 detik,” ujarnya.
Itu adalah letusan terbanyak kedua sejak peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada 18 Juni lalu. Letusan terbanyak terjadi pada 30 Juni lalu dengan letusan sebanyak 745 kali.
Status Gunung Anak Krakatau kini Waspada (level II) dengan radius zona berbahaya di dalam radius dua kilometer. Status ini sudah dinyatakan sejak 26 Januari hingga sekarang. “Status waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya erupsi dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius dua kilometer,” ujarnya.
Ia melanjutkan, erupsi Gunung Anak Krakatau adalah hal yang biasa dan normal. Ibarat manusia, gunung ini masih dalam pertumbuhan. Gunung akan menambah tumbuhnya untuk lebih tinggi, besar, dan lebih gagah dengan cara meletus. “Gunung ini masih aktif meletus untuk tumbuh besar dan tinggi dengan melakukan erupsi. Tetapi energi letusannya tidak besar,” ujarnya. (Bayu M/RBG)










