CILEGON – Lebih dari 2.000 burung berkicau ditemukan mati di dalam mobil Avanza dengan nomor polisi BG 1382 TC. Berdasarkan keterangan pemilik, burung-burung yang diketahui jenis gelatik batu, ciblek, dan pleci itu diketahui berasal dari Palembang.
Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Cilegon Raden Nurcahyo Nugroho menjelaskan, hal itu terungkap saat petugas BKP Kelas II Cilegon mendapatkan laporan dari masyarakat dugaan penyelundupan hewan menggunakan kendaraan roda empat.
Berbekal informasi itu, petugas berhasil menggagalkan upaya melanggar hukum tersebut saat tiba di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Rabu (29/8). Saat diperiksa, di dalam kendaraan berwarna silver itu terdapat ribuan burung-burung berukuran mini itu.
Berdasarkan keterangan pelaku yang bernama Tarsidik, jumlah burung yang berada di dalam mobil itu sebanyak 6.000 ekor. Tidak diketahui secara terperinci jumlah untuk masing-masing jenis burung tersebut. “Saat kita giring ke kantor (BKP Kelas II Cilegon), kita periksa banyak burung yang mati, diperhitungkan lebih dari 2.000,” ujar Raden saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (30/8).
Diduga, burung-burung mati karena stres dan kepanasan akibat pengemasan yang seadanya dan berdesakan selama perjalanan dari Sumatera hingga ke Jawa. “Tahu banyak yang mati, kita khawatir yang masih hidup juga akan mati sehingga kita berkoordinas dengan KSDA untuk dilepaskan sore itu juga,” papar Raden.
Sementara burung-burung yang masih hidup langsung dilepaskan di area Gunung Sari, Kabupaten Serang. “Itu bukan hewan yang dilindungi, tapi pemilik tidak bisa menunjukkan dokumen-dokumen, tidak izin,” paparnya.
Akibat perbuatannya itu, lanjut Raden, pemilik bisa terkena sanksi pidana. Namun untuk proses selanjutnya BKP akan mengumpulkan sejumlah data terlebih dulu. “Sanksinya pidana berapa tahun dilihat nanti pada proses hukumnya,” ujar Raden.
Kepala Seksi Karantina Hewan pada BKP Kelas II Cilegon Rifky Danial menjelaskan, sebelum melakukan penangkapan, BKP Kelas II Cilegon bersama Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Merak dan Polsek Pulomerak melakukan pengintaian sejak Rabu (29/8) pukul 1 dini hari. “Pelaku sempat kabur, lalu kita kejar dan berhasil diamankan,” tutur Rifky.
Rencananya, burung-burung yang berasal dari Palembang itu akan dibawa ke Tangerang untuk dijual. Berdasarkan informasi, sudah ada pihak pembeli yang menunggu di daerah itu. “Sebanyak 6.000 burung itu dibawa dalam satu mobil. Jadi kursi tengah dan belakang dilipat, lalu semua burung dimasukkan. Burung-burung yang mati paling banyak di bagian belakang, karena sedikit oksigen dan terbentur pintu belakang,” ujarnya.
BKP bersama BKSDA terpaksa melepasliarkan burung-burung itu karena tidak mau ambil risiko semakin banyak burung-burung yang mati. “Karena kecil, burung-burung itu rentan mati. Dan memang perawatannya juga tidak bisa asal,” tuturnya. (Bayu M/RBG)









