PAMULANG – Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany bertekad ingin menorehkan sejarah untuk masa kepemimpinannya. Salah satunya mewujudkan Tangsel sebagai kota koperasi lewat program Satu Koperasi Seribu Usaha Kecil Menengah (UKM).
Hal itu diungkapkannya dalam penutupan Hari Koperasi ke-71 tingkat Kota Tangsel di Lapangan Ex Tomang Tol, Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel, Minggu (14/10). ”Saya percaya melalui koperasi, UKM-UKM yang ada di wilayah Tangsel bisa bersatu untuk menyelesaikan berbagai masalah dan akhirnya berujung pada peningkatan kesejaterahan masyarakat,” ujarnya di sela acara. Pernyataan ini terbukti. Acara Harkopda yang diselenggarakan selama empat hari yang diikuti sebanyak 192 stand UKM ini menghasilkan omzet hingga Rp5,2 miliar. Sebuah prestasi yang mengagumkan.
Pelaksana Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Tangsel Dahlia Nadaek menjelaskan, momentum ini sebagai ajang promosi pelaku UMKM yang ada di Tangsel. Dia mengimbau kepada masyarakat untuk mau menggunakan atau memakai produk UMKM Tangsel. ”Mari kita gunakan produk UMKM yang ada di Tangsel setiap ada kegiatan,” katanya. Dahlia menjelaskan, selama empat hari, berbagai kegiatan dilakukan, yakni pemilihan duta koperasi, cerdas cermat antar sekolah, lomba paduan suara, karnaval yang diikuti sebanyak 27 koperasi dan komunitas.
Sementara, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten Tabrani berharap, kegiatan ini dapat tersosialisasikan dengan baik. ”Di Banten ada 4.360 koperasi yang aktif dan terus berkembang. Di Kabupaten Tangerang saja ada Kopsyah Benteng Mikro Indonesia yang memilki 131 ribu anggota. Dan saya punya harapan, koperasi menjadi soko guru ekonomi di Tangerang Raya,” katanya.
Sementara, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM RI Meliadi Sembiring, menjelaskan, bahagianya bisa hadir di kegiatan ini. ”Bagaimana perkembangan koperasi dan UKM bisa lebih baik dari daerah lain, caranya dengan bersinergi dan memanfaatkan potensi yang ada,” ungkapnya.
Meliadi mengatakan, evaluasi koperasi terus dilakukan. Seperti dokter, Kemenkop akan memeriksa dan mengevaluasi koperasi seluruh Indoensia. ”Koperasi itu tak boleh sakit gigi, koperasi ada penilaian kesehatannya, penilainnya pun berbeda-beda,” tandasnya. (Wahyu S/RBG)










