Sungguh miris nasib Marni (45), nama samaran, terlalu manut pada suami, sebut saja Juki (51), ternyata malah dikhianati. Juki ternyata memiliki istri simpanan. Tujuh tahun menjalani rumah tangga, Juki berbagi jatah bulanan istri dengan wanita simpanannya. Yassalam.
Marni dan Juki merupakan warga Pulopanjang, Kecamatan Puloampel. Ditemui Radar Banten, Marni terlihat sedang sibuk melayani pembeli yang memesan kopi. Awalnya bersikap ramah dan murah senyum. Setelah disinggung soal suami, wajah Marni seketika berubah muram. Ia pun menceritakan pengalaman pahitnya berumah tangga dengan mantan suami. Penasaran dengan kisah Marni? Simak yuk ceritanya.
Juki memang sering berkunjung ke Serang melewati Pelabuhan Karangantu untuk berbelanja makanan dan barang jualan di warung yang ia kelola di depan rumah. Ternyata diam-diam Juki jatuh hati pada perempuan lain di Karangantu.
Sejak menjalin hubungan terlarang itu, Juki yang berprofesi sebagai nelayan mulai mengurangi jatah uang harian hasil melaut kepada Marni. “Waktu itu saya cuma mengerti aja karena pengakuan Mas Juki kalau hasil tangkapannya sedikit,” katanya.
Padahal, usut punya usut ternyata uang harian yang didapat Juki dibagi dua dengan simpanannya. Oalah. Diceritakan Marni, pertemuannya dengan Juki terjadi di acara pernikahan teman. Marni dan Juki waktu itu yang sudah menginjak usia dewasa, dijodohkan kedua orangtuanya. Mereka pun tak bisa menolak dan menuruti kata orangtua. Keduanya mulai menjalin kedekatan hingga akhirnya sepakat untuk pacaran. Selama pacaran Juki hanya fokus melaut mencai uang mengumpulkan biaya pernikahan. Untungnya Marni tak dituntut buru-buru untuk menikah.
Setahun kemudian, merasa cocok keduanya memutuskan untuk menikah. Marni yang memiliki wajah manis dan kulit eksotis itu akhirnya menjadi pelabuhan Juki. Sedangkan Juki hanya ditunjang postur tubuh tegap dan berkulit hitam.
“Gaya pacaran kita dulu unik, mancing berdua, bakaran ikan sambil duduk di pinggir pantai,” kenangnya.
Hari bahagia itu pun tiba. Keduanya menikah dengan perayaan sederhana.
Selama di pelaminan, wajah Minah tak luput dari perhatian Juki. Sikapnya seketika menunjukkan sosok lelaki romantis. Soal urusan ranjang jangan ditanya, keduanya bisa sampai saling meringis.
Setahun berumah tangga, mereka dikaruniai anak. Tentu saja kehidupan mereka semakin berwarna dengan kehadiran si buah hati. Hari-hari terlewati sampai akhirnya mereka dikaruniai anak kedua. “Setahun kemudian menyusul lagi anak ketiga,” akunya. Wah wah wah, produktif juga, genjot terus, Mbak!
Beruntung Marni memiliki suami yang dekat dengan anak, sering mengajak anak naik kapal sampai memancing bersama. Pokoknya, kehidupan rumah tangga mereka membuat iri kerabat dan tetangganya. Sering berjalannya waktu, sifat Juki mulai berubah, tak seroyal dulu. Ia jarang memberi uang kepada Marni. Sekalinya memberi uang nominalnya bisa dihitung jari. “Waktu itu saya sih enggak curiga, anggap biasa saja, kekurangan ekonomi. Alasannya masuk akal, hasil tangkapan ikan berkurang, ” tukasnya. Hasil tangkapan berkurang, istri bertambah tuh.
Sampai akhirnya, Marni menerima kabar kalau Juki terlilit utang dan mempunyai istri simpanan. Juki sering dipaksa istri mudanya memberikan nafkah. Belang Juki ketahuan setelah seorang penagih utang mendatangi kediaman Marni dan menceritakan rahasia yang disimpan suaminya. Penagih utang menceritakannya karena kesal dengan Juki yang tak bisa membayar utangnya.
“Saya dapat bocoran dari penagih utang. Ternyata jatah harian dibagi dengan istri mudanya. Sontak saya nangis dan minta cerai waktu itu juga,” kesalnya. Sabar.
Marni terus mendesak untuk pisah, tetapi Juki menolak dan meminta untuk pisah ranjang saja. Tiga bulan setelah peristiwa itu, Juki sering main ke rumah dan menemui anaknya. Sejak itu, hubungan keduanya sekarang sudah membaik dan saling membantu satu sama lain.
“Bulan lalu sih dia ngajak rujuk, tapi saya belum jawab,” sesalnya. Maafkan saja Mbak, setiap orang pernah khilaf. Mending kayak di pom bensin, dimulai dari nol. (mg06/zai/ira)










