SERANG – Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten mencatat, per 31 Juli ada 15.669,5 hektare lahan sawah yang mengalami kekeringan. Dari jumlah itu, 3.564 hektare di antaranya mengalami puso.
Kepala Distan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, daerah yang paling terdampak musim kemarau yang kering saat ini adalah Kabupaten Pandeglang. “Lahan yang puso semuanya berada di Kabupaten Pandeglang,” ujar Agus, Minggu (11/8).
Agus menguraikan, selain puso, tingkat kerusakan sawah yang lain adalah ringan seluas 5.461,5 hektare, sedang 3.201 hektare, dan berat 3.443 hektare. (lihat grafis).
Ia menerangkan, berdasarkan hasil pemantauan Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan, curah hujan hingga 31 Juli dan prakiraan peluang curah hujan bahwa akan terjadi curah hujan sangat rendah dan atau kurang dari 20 mm per 10 hari. Selain itu, juga terjadi hari tanpa hujan secara berturutan pada beberapa wilayah yang berdampak pada potensi kekeringan. “Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung setidaknya sejak Juli sampai September nanti,” ujar Agus.
Kata dia, pada dasarian I bulan Juli, sebagian besar wilayah Banten dalam kategori masih ada hujan rendah (11-20 hari). Namun, ada juga terdapat wilayah dengan hari tanpa hujan panjang (20-31 hari) yaitu Kabupaten Serang, Kota Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Tangerang. Dengan begitu, dapat disimpulkan sebagian besar wilayah di Banten sudah memasuki musim kemarau.
Sedangkan prakiraan sifat hujan pada Agustus berada di kategori normal untuk sebagian wilayah. Sementara prakiraan cuaca hujan bulan ini dalam kategori rendah (0-100 mm). “Sehingga untuk wilayah yang terkena kerusakan tanaman akibat kekeringan pada masa tanam 2019 pada bulan Juli periode I dan II adalah Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, dan sebagian Kabupaten Lebak,” urainya.
Agus menerangkan, mitigasi dan upaya yang dilakukan Pemprov Banten adalah meminta keempat daerah sentra padi membuat posko. “Sangat penting untuk mitigasi agar bisa koordinasi dan akan sangat memudahkan,” ujarnya.
Kata dia, Distan juga memberikan bantuan pjnjam pakai pompa. Pinjam pakai itu diprioritaskan bagi daerah yang sangat darurat. Selain itu, ada juga kegiatan dampak fenomena iklim bersama BMKG berupa pelatihan bimtek sekolah lapang. “Kami melatih mitigasi karena sifat-sifat hujan berbeda. Ini sangat penting untuk disampaikan kepada petani agar mereka mampu menghitung musim tanam dengan tepat,” urai Agus.
Pihaknya juga membuat area percontohan dengan total luas 500 hektare di empat kabupaten. Pihaknya juga membuat sumur pantek 120 titik.
Agus mengungkapkan, lahan yang terkena puso adalah sawah tadah hujan. Namun, biasanya petani menanam berdasarkan perhitungan kebiasaan tahun kemarin. “Spekulatif tinggi sekali,” ujarnya.
Agus mengatakan, pihaknya meminta petugas penyuluh pertanian untuk melakukan sosialisasi kepada petani untuk memiliki perlindungan. Gubernur Banten memiliki perhatian terhadap petani yang gagal panen dengan membuat program asuransi usaha tanaman padi (AUTP). Dengan premi sebesar Rp36 ribu per hektare per musim, para petani dapat klaim senilai Rp6 juta.
Ia mengatakan, per Agustus ini, ada 3.193,05 hektare lahan yang didaftarkan. Namun yang bayar premi lunas baru 1.890,32 hektare. “Target keseluruhan kami sebenarnya 12 ribu, tapi kami bertahap sembari memberikan sosialisasi kepada para petani,” tuturnya.
Namun, kata dia, Gubernur tetap memberikan mitigasi walaupun para petani belum mengikuti asuransi. Yakni memberikan benih padi gratis pada musim tanam berikutnya melalui program cadangan benih tanam daerah. Selain itu, tahun depan, akan dibuatkan perpipaan di Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak dan Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang masing-masing satu kilometer secara bertahap. Sedangkan di Kecamatan Muncang, Kabupaten Lebak akan dibangun dua kilometer, sehingga total pembangunan perpipaan tahun depan sepanjang empat kilometer.
“Upaya Gubernur minta ke saya untuk bantu
masyarakat yang memerlukan pipa,” terang Agus. (nna/air/ags)









