LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – DPRD Kabupaten Lebak meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kekeringan dan krisis air bersih yang diperkirakan terjadi selama musim kemarau tahun 2026.
Langkah antisipasi dinilai penting, mengingat sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak setiap tahun mengalami kesulitan air bersih saat musim kemarau.
Ketua DPRD Lebak, Juwita Wulandari mengatakan, pemerintah daerah perlu melakukan langkah-langkah pencegahan sejak dini agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.
“Selain ancaman terhadap petani padi juga ancaman krisis air bersih di musim kemarau seperti saat ini. Karena itu, Pemkab mesti mengantisipasi dan respon tanggap dengan cepat terhadap warga yang kesulitan air bersih,” kata Juwita, Selasa, 9 Juni 2026.
Selain menyiapkan distribusi bantuan air bersih, kata politisi PDIP ini, Pemkab Lebak diminta memastikan ketersediaan sarana pendukung serta melakukan pemantauan secara berkala terhadap wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih
“Paling utama kesiapan distribusi pasokan air bersih. Pastikan stok air bersih tersedia. Sehingga, bisa dengan capat masyarakat yang kesulitan air nersih dibantu,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi. Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, kecamatan, desa, hingga instansi terkait perlu diperkuat guna mempercepat penanganan apabila terjadi kekeringan di sejumlah wilayah.
“Kemarau dan krisis air bersihkan setiap tahun terjadi. Jadi, seharusnya bisa dengan cepat teratasi persoalan kekeringan dan krisis air bersih,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Feby Rizky Pratama mengatakan, saat ini Kabupaten Lebak telah memasuki musim kemarau.
BPBD telah melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan dan krisis air bersih.
“Sebanyak 90 desa di 23 kecamatan telah kami petakan sebagai wilayah yang rawan mengalami kekeringan dan kesulitan air bersih selama musim kemarau,” ujarnya.
Editor: Agus Priwandono








