Siapa bilang berbelanja barang-barang second alias thrift shopping merupakan hal memalukan? Kaum metropolis bahkan sudah terbiasa berburu barang second, tak terkecuali pakaian.
Di Jakarta, untuk mendapatkan barang-barang second cukup datang ke Pasar Senen, tepatnya di Pasar Ular dan Poncol. Tempat itu seperti menjadi surga bagi pemburu barang klasik dan vintage. Pastinya, harga terjangkau.
Dewasa ini pecinta pakaian bertema vintage pasti sudah tidak asing dengan thrift shopping. Ya, wanita di era 2000 hingga 2019 pasti sudah banyak yang suka belanja baju second di beberapa toko yang ada di kotanya. Bahkan, 2019 ini, belanja baju branded yang bekas sedang hype. Tapi, tenang saja, walaupun baju bekas, tetap ada kelebihan dari thrift shop.
Pertama, harga merek pakaian branded bisa jadi murah dan pas di kantong. Kedua, kita bisa punya baju tanpa mirip sama teman, secara produksi dalam negeri biasanya suka menyamakan model dan mudah ditemukan, sedangkan pakaian thrift shop sering kali berbeda dari yang lain. Terakhir, thrift shop bisa dijadikan ladang bisnis untuk tambah uang jajan.
Namun, di balik itu semua, negatifnya belanja baju bekas adalah kondisi baju yang tidak selalu sesuai dengan keinginan alias tidak seutuhnya dalam kondisi bagus. Pastinya harus berhati-hati dalam memilih. Karena, kadang ditemukan jahitan lepas, bekas tumpahan, cracking paint, berlubang, dan cacat lainnya. Yang terpenting, kita harus tetap cermat dalam memilih.
Thara Andani, mahasiswi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, mengaku, senang membeli baju bekas. “Ada toko di dekat Pasar Senen yang memang baju bekasnya bagus-bagus dan tiap minggu pasti suka ada yang baru. Jadi kalau lagi pulang ke rumah, suka mampir saja belanja,” aku mahasiswi jurusan komunikasi dan penyiaran Islam itu.
Sedangkan Lidha Agustin, mahasiswi Untirta, mengatakan, selalu rajin mencuci terlebih dahulu sebelum dipakai. “Biasanya setelah dibeli, pakaian direndam air panas dulu biar kuman atau bakteri yang ada pada baju bekas hilang. Soalnya, kan kita enggak tahu baju bekas itu pernah dipakai orang berpenyakit atau apa. Baru deh dicuci bersih,” aku mahasiswi jurusan akuntansi itu.
Lidha menambahkan, menjadi pemilih juga penting dalam thrift shop. “Biar enggak menyesal aja, pas kita tahu kalau bajunya ada robekan, atau kotoran, atau warna lain. Jadi, harus pintar memilih,” tuturnya.
Bagi warga Serang dan sekitarnya yang ingin berburu barang bekas dengan kualitas yang bisa dibilang bagus tetapi harganya murah, bisa mendatangi beberapa tempat. Seperti di Pasar Lama dan Pasar Rau, Kota Serang. Memang, jumlahnya tidak sebanyak di Poncol dan Pasar Ular, melainkan hanya satu toko terpisah. Itupun menyediakan stok yang tidak terlalu banyak.
Stok pakaian di toko-toko seperti itu dijelaskan Edra Sasko, owner Affan Second Collection, pakaian second impor yang ia jual berasal dari mancanegara. Jenisnya pun beragam.
“Walaupun barang bekas, tapi asalnya dari Jepang, Korea, Amerika. Kalau belanjanya, saya ambil dari Bandung. Sebelumnya ada di Pasar Senen, tapi karena sudah tutup jadi adanya di Bandung,” jelas Edra saat ditemui di sela-sela aktivitas berdagangnya di Jalan Samaun Bakri, Pasar Rau, Kota Serang. Rabu (11/9).
Edra bilang, ia mulai melayani pembeli saat toko dibuka dari pukul 09.00-21.00 WIB. Namun, biasanya toko ramai saat malam hari. “Biasanya yang dicari pembeli itu celana, mulai dari yang bahan, katun, jeans juga. Kalau kaus, biasanya banyak diminati kalau tidak bermerek, yaitu bermodel,” ucap lelaki yang tinggal di Bumi Serang Damai (BSD), Trondol, Kota Serang itu.
Mengenai harga, Edra mengungkapkan, relatif karena tergantung kondisi barang dan keadaannya. “Kalau mereknya bagus, kondisinya bagus, harganya kisaran Rp200.000-Rp300.000. Sedangkan yang paling rendah, harganya ada yang Rp15.000. Itu untuk celana, baju juga ada. Kalau lebih murah lagi, biasanya kita jual Rp5.000. Itu diobral. Biasanya untuk koleksi stok-stok lama,” kata Edra.
Di tempat lain, Emi, owner Yan Collection yang menjual barang second di kawasan Pasar Lama, Kota Serang, tepatnya di Depan Polsek Serang menjelaskan, penjualan pakaian kadang tidak menentu. “Kadang ada kadang tidak, maksudnya sepi atau ramai. Tapi, akhir-akhir ini lagi sepi,” curhat Emi.
Sama seperti toko lainnya, Emi bilang, barang-barang yang ia sediakan berasal dari Bandung lalu dijual kembali di pertokoan second-hand. Mengenai harga, Emi bilang relatif. “Soal harga, tidak bisa dipatok, tergantung kualitas barangnya. Jika masih bagus, harganya pun masih tinggi. Sebaliknya, jika stok lama, harga pun menyesuaikan,” pungkas Emi. (najla-haikal zetizen/alt/ira)











