Ungkapan mulut netizen lebih tajam dari silet, dialami langsung oleh Juki (35) yang menikahi Ani (27) di awal 2017, keduanya nama samaran. Wajah Juki yang jauh dari kata tampan, membuat Ani yang cantik jelita di-bully alias dirundung teman-teman dan tetangga. Astaga.
Ditemui Radar Banten di Kecamatan Ciomas, Juki siang itu sedang menunggu giliran motornya diservis di bengkel. Sambil menunggu, obrolan tentang pengalaman pahit berumah tangga pun berlangsung. Juki bersemangat menceritakan kisahnya.
Bagi Juki, bersabar menerima ocehan orang-orang tentang rumah tangga dengan Ani ialah makanan sehari-hari. Amarahnya selalu bisa ditahan dan hanya tersenyum jika diledeki. Tapi tidak dengan Ani, wanita yang ditemuinya di saung pinggir sawah itu ternyata sakit hati dan sempat meninggalkan suami. “Namanya juga hidup di kampung, orang-orang suka nyinyir,” keluh Juki
Diceritakan Juki, ia berasal dari keluarga yang bisa dibilang mampu dari segi ekonomi. Juki memiliki usaha di bidang pertanian seperti pabrik penggilingan sampai toko beras. Sedangkan Ani cuma anak petani biasa yang sering menggiling padi di pabrik penggilingan milik keluarga Juki.
Setelah tiga bulan pendekatan, Juki melamar Ani. Pernikahan mereka digelar cukup meriah. Dengan restu kedua belah pihak, Juki berharap bisa hidup bahagia bersama istrinya. “Alhamdulillah saya berjodoh dengan Ani yang cantik, putih, dan baik,” katanya.
Di kampung, Juki memang orang terpandang karena kekayaannya, tapi banyak juga yang bilang, wajah Juki tidak pantas jadi orang kaya. Parahnya lagi, banyak yang bilang Ani kena pelet dari Juki. “Saya mah enggak mau pusing mikirin omongan orang,” katanya.
Dan awal rumah tangga, sikap Ani juga masih biasa. Setiap ada orang yang mengejek, Juki selalu bisa menenangkan istrinya untuk sabar. Ani pun menurut, waktu itu Juki merasa bahagia. Di tengah ocehan orang, ia dan Ani berhasil bersabar dan menghadapi cobaan itu bersama. “Wah, indah banget. Pokoknya mah bersyukur banget,” ungkapnya.
Tapi, setelah setahun rumah tangga dan mereka belum dikaruniai anak. Ocehan miring tentang rumah tangganya muncul lagi dengan isu kalau Ani mandul. Mungkin karena tak tahan, sikap Ani pun berubah. Ia diam seribu bahasa dan cuek terhadap suami.
Awalnya Juki berpikir kalau istrinya hanya sedang datang bulan alias haid dan tidak ingin diganggu. Tapi selama sebulan lebih, ternyata sikap istrinya tidak berubah. Juki terus berusaha merayu, tetapi Ani tetap cuek. ”Sikapnya buat saya pusing. Dia cuek banget, yang biasanya bikinin kopi juga kagak bikin lagi,” curhat Juki.
Sampai suatu malam Ani izin pergi ke rumah temannya yang sakit, tapi sampai larut malam hingga pagi Ani tak kunjung pulang. Juki menyusul istrinya ke rumah temannya di pagi buta, ternyata tidak ada. “Sejak itu saya mulai curiga kalau dia kabur,” tukas Juki
Setelah tiga hari tidak pulang, ternyata Ani ada di rumah keluarganya. Juki sempat menjemput, tetapi Ani menolak dibawa pulang suaminya. Sejak itu Juki kecewa. Ia merasa tidak dihargai sebagai suami. “Akhirnya saya marahin, dia nangis,” katanya.
Juki dan Ani pisah ranjang selama tiga bulan. Beruntung, setelah kedua keluarga mengadakan musyawarah, akhirnya Ani mau kembali pulang ke rumah suaminya. Juki pun menyambut istrinya dengan penuh suka cita, hubungan mereka kembali harmonis. Tiga tahun berumah tangga, barulah mereka dikaruniai anak, hingga sekarang mereka hidup bahagia.
Subhanallah, sabar ya Kang Juki. Jangan dengerin omongan orang, semoga langgeng selamanya. Amin. (mg06/zee/ags)










