Hendra mengakui awal mengirim contoh hasil umbi sente sempat ditolak beberapa kali. “Mereka mau mengajarkan cara menanam umbi sente hingga menghasilkan kualitas yang masuk kualifikasi pabrikan. Ternyata, selama ini, kita panen umbi setelah masa tanam enam bulan. Padahal setelah mendapat edukasi yang benar, seharusnya kita panen setelah masa tanam sepuluh bulan hingga menghasilkan umbi sente berkualitas tinggi,” jelas Hendra.
Meski begitu, Hendra mengakui bahwa kapasitas produksinya belum mampu memenuhi kebutuhan pabrikan. Dari kebutuhan 10 ton per minggu, Koperasi PKM baru bisa memenuhi tiga ton.
Solusinya, lanjut Hendra, pihaknya sudah mendapat lampu hijau dari Perhutani untuk menambah lahan sebesar 50 hektare. “Produksi tiga ton per minggu itu dihasilkan dari lahan seluas 75 hektare. Perhutani sudah menyiapkan lahan khusus umbi sente seluas 117 hektar, tapi kita ambil 50 hektare terlebih dahulu,” tukas Hendra.
Selama ini, Koperasi PKM memiliki total lahan seluas 75 hektare, yaitu 25 hektare milik masyarakat (anggota), sedangkan yang 50 hektare milik Perhutani lewat program Perhutanan Sosial.











